Calon Santri

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, kita masih diberi umur dan kesempatan oleh Allah SWT sehingga saya bisa menulis cerita saya ini dan anda bisa membaca tulisan saya.

Kemarin saya telah memperkenalkan diri dan menceritakan sebagian kisah hidup saya, tepatnya sampai kepada fase pengangguran ditambah kecanduan game online setelah lulus Sekolah Dasar. Pada artikel ini, sebagaimana yang ada di judul, saya akan mengisahkan bagaimana saya -atas bimbingan Allah- dapat menemukan sebagian tujuan hidup dan bertaubat dari kebiasaan yang banyak membuang waktu dan uang tersebut.

Arahan dari Eyang

Karena menganggur, banyak waktu saya habiskan untuk menonton televisi di rumah Eyang. Melihat kondisi saya yang cukup ‘mengenaskan’, Eyang Putri memanggil saya untuk menghadap beliau.

Beliau bercerita, bahwa ada salah seorang saudara sepupu di Depok yang seumuran saya mau masuk ke pesantren di Jakarta.

“Mad, ini Taqi mau masuk pondok di Jakarta. Kamu mau ikut nggak? Ada kolam renangnya, lho.” Kira-kira begitu tawaran beliau kepada saya ketika itu.

Saya sangat senang mendengar tawaran itu. Bukan karena kolam renangnya. Akan tetapi karena saya akan belajar dan tinggal dekat dengan saudara-saudara saya di Depok. Apalagi setelah mengetahui bahwa satu kali dalam sepekan para santri diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Ya, kegiatan yang monoton di rumah ketika itu sangat membuat saya bosan. Dan bertemu (baca: bermain) bersama saudara-saudara sepupu adalah hal yang sangat seru, bahkan hingga sekarang ini.

Tes bacaan Al-Qur’an | dok.pribadi

Pada liburan akhir tahun 2010, saya dan keluarga berangkat ke Depok untuk menghadiri acara Gathering keluarga besar Bani Sahlan. Nah kebetulan pendaftaran pesantren yang saya dan saudara saya akan ke sana juga baru dibuka pendaftarannya. Akhirnya kami berangkat ke pesantren tersebut untuk daftar dan tes masuk.

Logo SMPQ Al-Ihsan | al-ihsankebagusan.sch.id

Saya baru tahu nama pesantren yang saya akan belajar di sana ketika tes itu. SMP Qur’an Al-Ihsan Boarding School. Lumayan keren kan namanya?

Meninggalkan Kampung Halaman

Bulan Juni 2011 saya pergi meninggalkan Magetan untuk berangkat ke Depok. Sengaja berangkat sekitar sebulan lebih awal sebelum masuk sekolah untuk pembiasaan diri jauh dari keluarga, juga untuk mempersiapkan barang-barang yang tidak mungkin diboyong dari Magetan.

Hari-hari pertama di Depok terasa amat menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan. Setiap hari bermain bersama saudara-saudara yang kebetulan masih liburan sekolah juga. Jajan kesana-kemari. Pokoknya sama persis seperti yang dibayangkan. Betapa nikmatnya.

Baru sekitar tiga minggu di Depok, sudah mulai ada perasaan bosan. Apalagi belum terbiasa dengan model pergaulan yang agak keras di sini. Bisa dibilang cukup berbeda dengan model pergaulan halus yang saya rasakan di Magetan dan Jogja. Tapi mau tidak mau harus dibetah-betahin karena sudah terlanjur berangkat. Mau gimana lagi?

Dua hari menjelang saya berangkat ke Al-Ihsan. Abah dan Ummi datang ke Depok. Lumayan melegakan hati, karena saya kira ketika saya berangkat sebulan yang lalu ke Depok itu memang sudah ‘dilepas’ begitu saja.

Dua malam sebelum ke Al-Ihsan. Kami belanja ke salah satu tempat perbelanjaan untuk membeli barang-barang yang harus dibawa ke pesantren. Mulai dari peralatan mandi, peralatan tidur, peralatan sholat dan berbagai peralatan pribadi lainnya.

Satu malam sebelum ke Al-Ihsan. Kegundahan mulai merasuki dada. ‘Yah, besok ke pesantren. Abah-Ummi pulang ke Magetan. Jauh banget lagi..’ kataku dalam hati. Waktu itu betul-betul galau sebagaimana yang dirasakan hampir setiap calon santri baru. Saya mengadukan hal ini kepada Ummi.

Tidak seperti yang diharapkan, rupanya setelah mengadu kepada Ummi tidak membuat hati tenang, tapi malah bertambah galau. Mendengarkan nasihat-nasihat beliau hanya membuat saya semakin berpikir, ‘Aduh, bentar lagi pergi..’. Akhirnya nasihat beliau ditutup dengan pesan, ‘Udah, Mas.. Istighfar seratus kali supaya hati tenang..’. Setelah itu beliau pergi meninggalkan saya sendiri di dalam kamar.

Sekian dulu untuk perjalanan saya kali ini. Bersambung.

Tinggalkan komentar