Coretan Seorang Santri

thewritersorkshop.net

aacc.edu

Perjalanan hidup seorang santri di pesantrennya adalah hal yang tiada habisnya untuk dibahas karena setiap santri mempunyai cerita tersendiri yang unik. Maka dari itu, dalam seri keempat dari lima seri yang diwajibkan, saya akan bercerita sedikit perjalanan unik saya selama di SMP Qur’an Al-Ihsan Boarding School, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.


Tekad Kuat

fastcompany.net

Entah kenapa ketika di Al-Ihsan, saya merasa seperti ada semangat yang berbeda. Seperti yang saya ceritakan di seri ketiga (Memilih Berubah), saya merasa jauh lebih dewasa daripada sebelum-sebelumnya. Saya pun mulai membuat target-target pencapaian. Saya masih ingat bagaimana target-target itu saya tulis dan saya tempel di atas tempat tidur saya agar setiap sebelum tidur saya selalu teringat kepada target-target itu. Kira-kira isinya seperti ini;

Target harian:

Tilawah: 1 juz (Satu bulan 30 juz)
Hafalan: 1 halaman (Satu bulan 1 juz)

Semangat! Inget, Rp 10.000.000!!!

Teman-teman banyak yang salah paham dengan target saya itu. Terutama di bagian nominal itu. Mereka mengira kalau saya berhasil mencapai target-target yang saya tulis, saya akan mendapat hadiah uang. Setelah saya terangkan bahwasannya bukan seperti itu, melainkan nominal itu adalah biaya yang oleh kedua orang tua saya keluarkan agar anaknya dapat masuk di SMP Qur’an Al-Ihsan ini, mereka baru paham.

Aneh kan ya? Anak umur 12 tahun yang kecanduan game seperti saya ketika itu berfikir sampai ke sana. Mungkin karena faktor jaunya pesantren juga. Wallahu a’lam, padahal sebelum-sebelumnya saya adalah anak yang cenderung tidak peduli terhadap uang bahkan bisa dibilang mubadzir karena sering membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Saya hanya bisa bersyukur dan berprasangka baik kepada Allah, mungkin ini yang disebut hidayah yang Allah beri kepada yang Dia kehendaki.

 Kelompok Makan

kompas.com

Hidup di pesantren kurang lengkap rasanya kalau belum punya kelompok. Meskipun terkadang hal ini dinilai kurang baik dan memang sempat dilarang di pesantren, tapi justru ini yang paling membuat saya rindu kepada kehidupan di pesantren.

Karena adanya larangan dan ancaman hukuman bagi santri-santri yang membuat kelompok tersendiri, kami menyiasatinya dengan berlindung dibalik alasan ‘cuma kelompok makan’. Hehe.Karena memang sebetulnya kelompok saya ini bisa berkumpul juga secara tidak sengaja tanpa niat membuat kelompok.

Ceritanya ketika kami hendak mengambil makan (saya lupa apa itu pagi, siang atau malam), ada satu teman yang menawarkan untuk makan bersama menggunakan nampan. Saya menerima ajakannya, kemudian dia mengajak satu temannya lagi dan saya ajak saudara saya untuk ikut makan bersama.

Jadilah kami berempat makan dalam satu nampan. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai pada aktifitas apapun kami hampir selalu bersama. Makan, belajar, bermain bola, bertukar cerita, mengaji, berkelahi bersama dan masih banyak lagi.

Suatu waktu kami berempat sedang latihan fisik (baca: berkelahi) dengan perjanjian yang sudah dibuat, tidak boleh terbawa emosi. Namun ketika itu ada santri lain yang melihat dan dia melaporkan kami ke ustadz-ustadz yang ada di pesantren. Walhasil kami berempat dan ada beberapa kawan juga yang sering main bersama kami dipanggil oleh ustadz yang rupanya setelah kami datang, kami disidang! O mak!

Kami ditegur dan diancam akan dikenakan surat peringatan 2 (SP 2) langsung apabila masih terus menerus melakukan latihan fisik itu. Setelah sidang, kami berempat berunding dan memutuskan untuk rehat sejenak dari latihan fisik. Tapi saya pribadi tetap melanjutkan, tapi sendirian saja. Melawan tembok. Hasilnya? Tangan saya ketika itu cukup keras untuk memukul lawan dan terasa sakit walaupun tidak mengeluarkan tenaga yang banyak.

 Dua Tahun Berlalu

Alhamdulillah target yang saya tulis ketika baru masuk itu tercapai, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Sekitar 1 tahun 8 bulan saya menyelesaikan setoran hafalan Al-Qur’an 30 juz. Saya yang memang setahun lebih tua (karena terlambat masuk SMP) dari teman seangkatan pun memutuskan untuk keluar dari pesantren terlebih dahulu dari teman-teman seangkatan saya.

Di lain sisi, saya juga telah menyelesaikan program paket B karena saya tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) secara normal seperti anak-anak yang lain. Namun ternyata oleh pihak pesantren saya diberi kehormatan untuk mengikuti wisuda angkatan kakak kelas saya. Jadi bisa dibilang saya alumni juga karena sudah diwisuda. Hehe.

Karena tulisan ini sudah diatas 650 kata yang sudah lebih dari cukup dari batas minimal, saya sudahi dulu ya. Ceritanya singkat sekali ya? Hehe. Insya Allah-lah kapan-kapan saya tulis lagi tentang detail-detail pengalaman di pesantren.

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>