Cara Berniat Puasa Ramadhan

Niat

Sudah menjadi kesepakatan ulama, baik salaf maupun khalaf, bahwa ada 2 hal yang menjadi syarat diterimanya amal ibadah seseorang;

  1. Niat yang ikhlas karena Allah.
  2. Mengikuti bimbingan dari Rasulullah SAW.

Misalnya dalam ibadah sholat, maka syarat diterimanya sholat kita, baik wajib maupun sunnah, adalah (1) kita sudah berniat dengan ikhlas semata-mata ibadah sholat kita hanya untuk Allah saja dan tidak ada penyebab lain kita sholat (misalkan kita sholat karena dilihat oleh orang, maka ini dilarang bahkan bisa jadi tidak diterima sholatnya) serta (2) kita mengikuti ajaran yang diajarkan oleh Nabi SAW yang kemudian disusun oleh para ulama sehingga yang kita kenal sekarang adalah syarat sah dan rukun shalat.

Pembahasan lebih lengkapnya sudah dibahas di sini: Pentingnya Berniat di Setiap Amal

Niat Puasa Ramadhan

tribunnews.com
tribunnews.com

Seluruh ibadah yang dilakukan pada dasarnya membutuhkan niat, termasuk urusan ibadah puasa. Selama ini kita mengetahui bahwa rukun puasa itu hanya dua hal; niat dan imsak, yaitu menahan diri dari segala yang bisa membatalkan puasa dari mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Dalam mazahab Syafi’i umumnya niat itu diartikan dengan:

قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ

“Bermaksud untuk suatu hal disertai dengan perbuatanya”

Pentingnya niat dalam segala ibadah ini sehingga amalan yang dikerjakan tidak dilandasi dengan niat diangap sebagai amalan yang sia-sia, dalam artian tidak mendapatkan nilai ibadah disisi Allah SWT, untuk itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meningatkan:

إِنَّمَا الأَعْماَلُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِءٍ مَا نَوَى

Sungguh setiap pekerjaan itu bergantung dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan” (HR. Bukhari Muslim)

Niat Puasa Wajib Dimulai Sejak Malam

Memang mayoritas ulama termasuk didalamnya madzhab As-Syafi’i mensyaratkan khusus untuk niat puasa wajib, seperti puasa ramadhan, harus sudah ada semenjak malam dan sebelum subuh. Dalam istilah fikihnya sering disebut dengan istilah tabyit an-niyyah/membermalamkan niat, maksudnya berniat dimalam hari sebelum subuh. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits riwayat Hafshah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

”Barang siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Abu Daud,  Tirmidzy, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan lainnya).

Memang dikalangan para ahli, hadits ini penuh dengan catatan terutama terkait apakah hadits ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau tidak. Namun pada intinya ada jalur yang menilai hadits ini hanya sampai kepada Hafshah saja, tapi sebagian jalur periwayatan lainnya menilai bahwa hadits ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sederhananya jika ada riwayat yang bisa dipertanggung jawabkan menilai bahwa hadits ini sampai maka selaku penguna hadits kita bisa menyandarkan lewat riwayat yang sampai.


Ada perbedaan pendapat mengenai berapa kali kita harus berniat puasa di bulan Ramadhan. Berikut ini penjelasannya.


Niat Setiap Malam

niat puasa di malam hari
7daftar.com

Menurut pendapat yang pertama, niat harus dilakukan setiap malam yang besoknya akan dilakukan puasa. Pendapat ini adalah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama sejak zaman salaf (zaman dahulu) sampai sekarang. Menurut mereka, satu niat tidak bisa dipakai untuk satu bulan puasa.

Logikanya adalah karena masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat untuk puasa di suatu hari dan bisa berniat tidak puasa di hari lainnya. Oleh karena itu, jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat tersendiri untuk setiap satu hari puasa yang dilakukan sejak malam harinya.

Imam An-Nawawi ((w. 676 H)), salah seorang ulama Mujtahid Madzhab terbesar dalam madzhab Syafi’iyah mengatakan:

تجب النية كل يومٍ سواء رمضان وغيره وهذا لا خلاف فيه عندنا فلو نوى في أول ليلةٍ من رمضان صوم الشهر كله لم تصح هذه النية لغير اليوم الأول

Artinya:
“Wajib niat untuk tiap-tiap hari, baik Ramadhan atau hari lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam madzhab kami. Bila seseorang berniat di awal malam Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, niatnya tidak sah kecuali hanya untuk niat malam pertama saja.”

Pendapat ini disetujui oleh ulama madzhab Hanafi dan Hanbali.

Satu Niat untuk Satu Bulan

Sedangkan kalangan fuqaha dari madzhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan hal itu. Bahkan bila mengacu kepada ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah untuk berniat puasa itu untuk satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari. Ayat yang dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“…Siapa diantara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan), maka berpuasalah…” (QS. Al-Baqarah : 185)

Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adalah isim untuk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu.

Dalam hal ini mereka membandingkannya dengan ibadah haji yang membutuhkan masa pengerjaan yang berhari-hari. Dalam haji tidak perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja seseorang berniat untuk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu.

Imam Ibnu Abdil Barr ((w. 463 H)) menyebutkan di dalam kitabnya, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah sebagai berikut:

فتجزئه النية في أول ذلك كله دون تجديد نية لكل ليلة منه عند مالك

Artinya:
“Dibolehkan niat pada awalnya saja tanpa harus memperbaharui niat pada tiap malamnya menurut Imam Malik.”


Apabila dilihat dari kedua pendapat di atas, tidak mengharankan apabila mayoritas penduduk Indonesia yang notabene bermadzhab Syafi’iyah selalu melafazhkan niat puasa setiap selesai sholat tarawih.


Bacaan Niat Puasa Ramadhan

Ulama Syafiiyah menawarkan tatacara berniat yang dimaksud untuk kemudian inilah yang dipakai dalam redaksi lafaz niat yang selama ini sering kita dengar dimasjid-masjid atau bahkan di madrasah-madrasah yang ada di negri kita khususnya dan negri yang mayoritas pendudukanya bermadzhab Syafi’i pada umumnya.

Imam An-Nawawi menuliskan bahwa:

صِفَةُ النِّيَّةِ الْكَامِلَةِ الْمُجْزِئَةِ بِلَا خِلَافٍ أَنْ يَقْصِدَ بِقَلْبِهِ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى

“Bentuk niat yang sempurna adalah dengan sengaja hati bermaksud berpuasa esok hari dalam rangka menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala”.

Dari sini hadirlah redaksi lafaz niat puasa yang sering diucapkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالىَ

Dibaca: “Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri Romadhoona haadzihis sanati liLlaahi Ta’aalaa.”

Artinya: “Sengaja aku berpuasa untuk esok hari dalam rangka menunaikan kewajiban puasa Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala”.

Kesimpulannya, bahwa tradisi melafalkan bersama lafaz niat puasa ramadhan itu tidak lepas dari pedoman niat berpuasa dalam pandangan madzhab As-Syafi’i itu sendiri, sesuai dengan penjelasan singkat diatas, walaupun tidak juga persis diajarkan untuk melafalkannya secara bersama juga tidak diajarkan persis untuk diucapkan setelah shalat tarawih.

Namun demi kemaslahatan bersama, akhirnya para kyai mengambil inisiatif untuk dibaca bersama setelah shalat tarawih takut nanti sebagian masyarakat lalai atau lupa perihal niat ini, mengingat keabsahan puasa ramadhan pertama-tama dinilai dari niatnya. Dengan tetap meyakini bahwa walaupun tidak diucapkan setelah shalat tarawih atau bahkan tidak ucapkan sama sekali, yang penting dari sejak malam dan sebelum subuh hati kita sudah berniat untuk berpuasa, itu sudah dinilai sah.

Tinggalkan komentar