Inilah Janji dan Profil Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura

Singapura akan segera memiliki Presiden baru. Halimah binti Yacob akan menjadi Presiden ke-8 Singapura menggantikan Tony Tan Keng Yam yang sudah menjabat sejak 1 September 2011 lalu. Halimah juga menjadi Presiden wanita pertama yang akan memimpin Singapura dan dia merupakan Presiden keturunan Melayu kedua setelah Yusof Ishak. Halimah akan dilantik menjadi Presiden pada Rabu (13/9).

Pada hari Senin (11/9), Halimah dipilih sebagai pengganti Tony Tan setelah kandidat lainnya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk mengikuti pemilihan. Terpilihnya Halimah ini juga memperkuat citra Singapura sebagai negara multikultural. Halimah merupakan satu dari empat orang yang mendaftar sebagai Presiden Singapura.

Terpilihnya Halimah menjadi catatan sejarah baru bagi Singapura karena ia akan jadi Presiden kedua yang berasal dari etnis melayu. Sebelum Halimah, sekitar tahun 1965, Singapura pernah dipimpin oleh Presiden yang berasal dari etnis melayu bernama Yusof Ishak. Yusof menjabat sejak 9 Agustus 1965 hingga 23 November 1970. Yusof lahir di Perak, Malaysia dengan ayah keturunan Minangkabau dan ibu berdarah Melayu.

Sebelum menjadi Presiden, ia tercatat pernah menduduki beberapa jabatan penting. Halimah pernah menduduki jabatan Menteri Negara, Kementerian Pengembangan Komunitas, Pemuda, dan Olahraga dari 21 Mei 2011 – 13 Januari 2013 di era Presiden Sellapan Ramanathan. Lepas jabatan dari Menteri Negara, Kementerian Pengembangan Komunitas, Pemuda, dan Olahraga, Halimah terpilih menjadi Ketua Parlemen Singapura untuk masa jabatan 14 Januari 2013 – 7 Agustus 2017.

Mari mengenal sosok muslimah tangguh dan cerdas, Halimah binti Yacob:

Halimah binti Yacob adalah seorang politikus Singapura dan keturunan Melayu. Dulu anggota Partai Aksi Rakyat (PAP), dia adalah Ketua Parlemen yang kesembilan, dari Januari 2013 sampai Agustus 2017. Dia adalah Anggota Parlemen (MP) yang mewakili Konstituensi Perwakilan Jurong Group antara tahun 2001 dan 2015 , dan Konfrensi Demokrasi Kelompok Marsiling-Yew Tee pada tahun 2015 dan 2017. Pada tanggal 7 Agustus 2017, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Pembicara dan MP, dan dari keanggotaannya di PAP, untuk menjadi kandidat untuk pemilihan presiden Singapura 2017.

Halimah binti Yacob

Keluarga

Halimah menikah dengan Mohammed Abdullah Alhabshee, seorang pensiunan keturunan Arab. Dari hasil pernikahannya tersebut, Halimah dan Abdullah memiliki lima anak.

Ayah Halimah adalah seorang India-Muslim. AYah Halimah meninggal saat dia berusia delapan tahun. Kemudian Halimah diasuh dan dibesarkan hanya oleh ibunya yang seorang Melayu.

Dia tinggal di dupleks HDB publik di Yishun, yang terdiri dari satu flat 5 kamar dan satu flat 4 kamar bergabung bersama dengan menghancurkan dinding pembatasnya.

Pendidikan

Halimah Yacob mengenyam pendidikannya di Singapore Chinese Girls ‘School dan Tanjong Katong Girls’ School. Setelah itu, Halimah melanjutkan pendidikannya di Universitas Singapura di mana dia menyelesaikan gelar LLB (Hons) pada tahun 1978. Dia melanjutkan ke Singapore Bar pada tahun 1981. Pada tahun 2001, dia menyelesaikan gelar LLM di National University of Singapore, dan mendapat gelar Doktor Kehormatan dari NUS pada tanggal 7 Juli 2016.

Perjalanan Karir

Halimah bekerja sebagai penegak hukum di Kongres Serikat Perdagangan Nasional, dan menjadi direktur departemen layanan hukumnya pada tahun 1992. Dia ditunjuk sebagai direktur Institut Studi Ketenagakerjaan Singapura (sekarang dikenal sebagai Institut Studi Ketenagakerjaan Ong Teng Cheong ) pada tahun 1999.

Karir politik

Halimah memulai karir politiknya dengan memasuki politik pada tahun 2001 saat dia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Konstituensi Perwakilan Jurong Group (GRC). Kemudian pada pemilihan umum 2011, Halimah diangkat menjadi Menteri Negara di Kementerian Pengembangan Masyarakat, Pemuda dan Olahraga.

Setelah perombakan Kabinet pada bulan November 2012, Halimah diamanahkan menjadi Menteri Negara di Kementerian Sosial dan Keluarga. Saat itu Halimah juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kota Jurong.

Pada bulan Januari 2015, dia dikooptasi ke Komite Eksekutif Pusat PAP, badan pengambilan keputusan partai tertinggi. Pada pemilihan umum 2015, Halimah adalah satu-satunya calon minoritas untuk kelompok Partai Aksi Rakyat yang memperebutkan kelompok Marsiling-Yew Tee GRC yang baru dibentuk.

Halimah secara aktif melawan Islam radikal, khususnya mengutuk dan melepaskan diri dari Negara Islam Irak dan Levant.

Ketua DPRD

Pada tanggal 8 Januari 2013, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mencalonkan Halimah Yacob untuk menggantikan mantan Ketua Michael Palmer yang mengundurkan diri setelah diungkap memiliki perselingkuhan di luar nikah. Dia terpilih sebagai Ketua Parlemen pada tanggal 14 Januari 2013. Halimah adalah wanita pertama yang memegang jabatan ini dalam sejarah Republik.

Sarikat Dagang

Halimah telah bertugas di National Trades Union Congress (NTUC) sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, Direktur Departemen Pelayanan Hukum dan Direktur Sekretariat Pembangunan Perempuan. Dia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif United Workers of Electronics dan Industri Listrik.

Halimah Yacob bersama dengan Sarikat Buruh

Selanjutnya Halimah terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Komite Ketenagakerjaan Internasional (ILC) di Jenewa dari tahun 2000 sampai 2002 dan pada tahun 2005. Pada tahun 2003 dan 2004, dia adalah Juru Bicara Pekerja untuk Komite ILC mengenai Sumber Daya Manusia Pengembangan dan Pelatihan.

Penghargaan

Sebagai pengakuan atas kontribusinya, Halimah dianugerahi Penghargaan Harian Berita / McDonald’s Achiever of the Year pada tahun 2001, “Penghargaan Wanita Dunia Terbaik Tahun Ini” pada tahun 2003, AWARE Heroine Award 2011, dan dilantik ke dalam Dewan Wanita Singapura di Organisasi Wanita Singapura pada tahun 2014.

Halimah Yacob tidak perlu menjalani proses pemungutan suara secara nasional untuk bisa menjabat Presiden Singapura yang baru, setelah kandidat lainnya gugur. Halimah berjanji akan melakukan yang terbaik bagi rakyat Singapura.

“Saya berjanji untuk melakukan sebaik mungkin yang saya mampu untuk mengabdi pada rakyat Singapura dan itu tidak akan berubah apakah ada pemilu atau tidak ada pemilu,” tegas Halimah saat ditemui wartawan setempat, seperti dilansir Channel News Asia, Selasa (12/9/2017).

“Semangat dan komitmen saya untuk melayani rakyat Singapura tetap sama. Saya tetap berkomitmen penuh untuk mengabdi pada rakyat Singapura dan pada negara Singapura,” imbuh wanita muslim yang akan menjadi presiden wanita pertama Singapura itu.

Kehidupan Halimah Yacob Sebagai Penjual Nasi Padang

Tidak banyak yang tahu jika Presiden terpilih Singapura Halimah Yacob hidup pas-pasan di masa kecilnya.

Mantan Ketua DPR Singapura ini lahir 23 Agustus, tepatnya 63 tahun silam di Queen Street yang terletak di area Bugis.

Masa kecil seorang Halimah tidaklah mudah. Ayahnya meninggal ketika dia baru berusia delapan tahun.

Dia tinggal di rumah susun yang hanya memiliki satu kamar, bersama saudara-saudaranya.

Demi menghidupi kelima anaknya, ibu Halimah berjualan nasi padang, mula-mula dengan sebuah gerobak kecil.

Usaha itu kemudian berpindah ke Hawker, setelah mereka diberikan izin.

Walau menjadi anak yang termuda, Halimah tidak sungkan untuk membantu ibunya berjualan.

Dia rajin membantu dengan membersihkan lokasi berjualan, mencuci sendok garpu, merapikan meja-meja tempat duduk pelanggan. Halimah juga rajin melayani pelanggan.

Halimah secara luar biasa berhasil diterima di dua sekolah bergengsi di tingkat SMP dan SMA.

Dia merupakan segelintir suku Melayu yang bersekolah di SMP Chinese Girls’ School yang mayoritasnya adalah pelajar wanita beretnis China.

Tingkat SMA ditempuhnya di Tanjong Katong Girls’ School. Namun Halimah hampir saja dikeluarkan dari sekolah karena sering membolos.

Alasan utama dia bolos tidak lain adalah untuk membantu ibunya berjualan. Halimah menceritakan bagaimana momen dia hampir dikeluarkan itu sebagai masa terburuk dalam hidupnya.

Memang masa SMP dan SMA ini sangatlah sulit. Uang sekolahnya sering tertunggak karena keterbatasan ekonomi.

Dia juga harus mengerjakan tugasnya sambilan dengan membantu ibunya berjualan.

Halimah berhasil melewati masa sulit itu, dan puncaknya masuk ke Fakultas Hukum Universitas Singapura (sekarang National University of Singapore) yang sangat bergengsi.

Kecerdasannya membuat Halimah dianugerahi beasiswa dari Islamic Religious Council of Singapore.

Ibu dari lima anak ini menyelesaikan perkuliahannya di tahun 1978. Dia kemudian bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) atau organisasi perburuhan Singapura.

Dia memulai karirnya di divisi hukum NTUC memperjuangkan hak-hak pekerja. NTUC menjadi tempat Halimah merangkak dari bawah hingga dipilih menjadi Deputi Sekretaris Jenderal, posisi kedua terkuat di NTUC.

Tidaklah mengagetkan jika Halimah populer di kalangan buruh, karena dia memang menghabiskan karir selama 30 tahun di NTUC.

Tahun 2001 setelah dibujuk oleh Perdana Menteri ketika itu Goh Chok Tong, Halimah memutuskan terjun ke dunia politik.

Dia terpilih mewakili konstituensi Jurong serta mengukir sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi anggota parlemen dari Suku Melayu.

Istri dari Mohamed Abdullah Alhabshee itu kemudian ditunjuk menjadi anggota kabinet dengan posisi menteri muda di berbagai kementerian.

Januari 2013 Halimah terpilih sebagai Ketua DPR, lagi lagi menjadi perempuan pertama yang dipercaya menduduki posisi itu.

Kini, lagi-lagi Halimah mengukir sejarah. Kemenangannya di pemilihan umum menghantarkannya menjadi wanita presiden pertama Singapura.

Sosok Halimah terkenal sangat sederhana. Dia tetap tinggal di rumah susun di kawasan Yishun, di utara Singapura walau sudah menjabat sebagai Ketua DPR.

Halimah melontarkan rencananya untuk tetap tinggal di rumah susun itu setelah menjabat sebagai Presiden.

Halimah dijadwalkan akan diambil sumpahnya sebagai Presiden kedelapan Singapura di Istana Kepresidenan, Rabu malam (13/9/2017).

Janji Halimah Yacob Selaku Presiden Singapura

Halimah (63) dinyatakan sebagai satu-satunya kandidat calon presiden yang memenuhi syarat untuk pemilihan presiden tahun ini. Departemen Pemilu Singapura hanya merilis satu Sertifikat Kelayakan untuk Halimah pada Senin (11/9) waktu setempat. Empat kandidat lainnya dinyatakan tidak layak.

Setiap kandidat calon presiden harus memenuhi serangkaian persyaratan yang diatur dalam Konstitusi Singapura. Kelayakan seorang kandidat dilihat dari integritas, karakter dan reputasi yang baik, serta setidaknya pernah selama 3 tahun memegang jabatan penting dalam pemerintahan (untuk sektor publik) atau pernah menjabat CEO perusahaan dengan total aset minimum SG$ 500 juta (dalam sektor swasta), atau menunjukkan posisi penting dan tanggung jawab besar yang pernah mereka emban sebelumnya.

Halimah dianggap memenuhi syarat untuk sektor publik, karena sebelumnya dia menjabat Ketua Parlemen Singapura selama 4 tahun pada Januari 2013- Agustus 2017. Kepada rakyat Singapura, Halimah mengajak mereka untuk bekerja sama membangun Singapura lebih kuat. Menurut Halimah, salah satu peran seorang Presiden adalah menyatukan rakyat.

“Saya ingin mendorong rakyat Singapura untuk bekerja bersama dengan saya, agar kita bisa bekerja bersama-sama untuk Singapura yang bersatu dan Singapura yang jauh lebih kuat. Ini adalah perjalanan yang harus kita jalani bersama,” tegasnya. ‘ detik.com

Tinggalkan komentar