17 Isi Penting Piagam Madinah

Ketika Baginda Nabi Muhammad SAW sudah menetap di kota Madinah, Beliau mengawali kehidupan di sana dengan menyusun dan memperbaiki hubungan dan kehidupan masyarakat di Madinah. Untuk mencapai tujuan ini, Rasulullah SAW, sebagai seorang tokoh yang disegani oleh kaum Muslimin maupun Yahudi Madinah, membuat sebuah peraturan yang dikenal dengan sebutan shahîfah, kitâb atau yang di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan watsîqah (piagam).

Piagam Madinah

ilustrasi gambar piagam yang dibuat oleh nabi muhammad SAW
hidayatullah.com

Para ahli sejarah umat Islam sangat memahami bahwa piagam ini amatlah penting pada proses penataan kehidupan masyarakat kota Madinah yang beragam. Maka, mereka pun berusaha untuk membahas dan meneliti hal-hal yang berkaitan dengan piagam ini, guna mencari apa saja tujuan, strategi dan peraturan Rasulullah SAW dalam menata kehidupan bermasyarakat. Mengenai kebenaran piagam ini, terdapat beragam pendapat diantara para kalangan ahli sejarah itu. Menurut penulis kitab as-Sîratun Nabawiyah Fi Dhauil Mashâdiril Ashliyyah, riwayat mengenai adanya Piagam Madinah ini adalah hasan lighairihi, yang artinya ia bisa dijadikan pegangan dan contoh bagi umat Islam.

Sejarah pada Penulisan Piagam Madinah

Menurut penulis kitab as-Sîratun Nabawiyah as-Shahîhah, Piagam Madinah yang kita kenal sekarang ini adalah gabungan dari 2 aturan yang terdiri dari aturan bagi kaum Muslimin Madinah secara khusus dan kaum Yahudi. Ia berkata;

“Pendapat yang kuat mengatakan bahwa piagam ini pada dasarnya terdiri dari dua piagam yang disatukan oleh para ulama ahli sejarah. Yang satu berisi perjanjian dengan orang-orang Yahudi dan bagian yang lain menjelaskan kewajiban dan hak kaum muslimin, baik Anshâr maupun Muhâjirîn. Dan menurutku, pendapat yang lebih kuat yang menyatakan bahwa perjanjian dengan Yahudi ini ditulis sebelum perang Badar berkobar. Sedangkan piagam antara kaum Muhâjirîn dan Anshâr ditulis pasca perang Badar.”

Ulama sejarah, Imam Ath-Thabariy, mengatakan : “Sebelum perang Badar berkecamuk, Rasulullah SAW telah membuat perjanjian dengan Yahudi Madinah agar kaum Yahudi tidak membantu siapapun untuk melawan Rasulullah SAW, (sebaliknya-pent) jika ada musuh yang menyerang beliau SAW di Madinah, maka kaum Yahudi harus membantu Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah berhasil membunuh orang-orang kafir Quraisy dalam perang Badar, kaum Yahudi mulai menampakkan kedengkian kepada umat Islam … dan mulai melanggar perjanjian.”

Sedangkan yang tertera dalam Sunan Abu Dawud, bahwa Piagam Madinah dibuat setelah peristiwa pembunuhan terhadap Ka’ab bin al Asyrâf (seorang Yahudi yang sering menyakiti Rasulullah SAW di Madinah), maka orang-orang Yahudi dan musyrik Madinah pun mengeluhkan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memberikan solusi dengan mengajak mereka untuk membuat sebuah perjanjian yang dipatuhi oleh kedua belah pihak. Lalu Rasulullah SAW menulis perjanjian antara kaum Yahudi dan kaum muslimin yang dikenal dengan Piagam Madinah.

Ada kemungkinan, riwayat kedua ini adalah penulisan ulang terhadap perjanjian tersebut. Dengan demikian, kedua riwayat tersebut bisa dipertemukan, riwayat pertama yang dibawakan oleh para ahli sejarah yang menyatakan kejadian itu sebelum perang Badar, sedangkan riwayat kedua yang dibawakan oleh Imam Abu Daud yang menyatakan kejadian itu setelah perang Badar.

Isi Piagam Madinah

isi piagam madinah yang perlu kamu tahu
thewritersorkshop.net

Piagam Madinah terdiri dari 17 isi yang berkaitan dengan kaum Muslimin, Musyrikin, Yahudi dan umum. Berikut ini adalah poin inti dari hal-hal yang sudah disebutkan:

A. Point-Point Yang Berkait dengan Kaum Muslimin

  1. Kaum mukminin yang berasal dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah) serta yang bergabung dan berjuang bersama mereka adalah satu umat, yang lain tidak.
  2. Kaum mukminin yang berasal dari Muhâjirîn yang memiliki hubungan dengan Bani Sa’idah, Bani ‘Auf, Bani al Hârits, Bani Jusyam, Bani Najjâr, Bani Amr bin ‘Auf, Bani an Nabît dan al-Aus tetap boleh berada dalam kebiasaan yang sudah ada pada masa jahiliyah mereka, yaitu tolong-menolong dalam membayar diat diantara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.
  3. Sesungguhnya kaum Mukminin tidak boleh membiarkan orang yang menanggung beban berat karena memiliki keluarga besar atau utang diantara mereka, (tetapi mereka harus-pent) membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.
  4. Orang-orang Mukmin yang bertaqwa harus menentang orang yang berbuat zhalim diantara mereka. Kekuatan mereka bersatu padu dalam menentang yang zhalim, meskipun orang yang zhalim itu adalah anak dari salah seorang diantara mereka.
  5. Jaminan Allah itu satu. Allah akan memberikan jaminan, sekalipun kepada kaum muslimin yang paling rendah derajatnya di mata masyarakat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu diantara mereka, tidak dengan yang lain.
  6. Sesungguhnya orang-orang Yahudi yang menaati kaum Mukminin berhak mendapatkan bantuan dan santunan selama kaum Yahudi tersebut tidak menzhalimi kaum muslimin dan tidak bergabung dengan musuh dalam memerangi kaum Muslimin.

B. Point Yang Berkait Dengan Kaum Musyrik

  1. Kaum musyrik Madinah tidak boleh melindungi harta atau jiwa kaum kafir Quraisy (Makkah) dan juga tidak boleh menghalangi kaum muslimin darinya.

C. Point Yang Berkait Dengan Yahudi

  1. Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.
  2. Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Kaum Yahudi berhak untuk menjalankan ibadah agama, budak-budak dan jiwa-jiwa mereka. Ketentuan ini juga berlaku bagi kaum Yahudi yang lain yang berasal dari bani Najjâr, bani Hârits, Bani Sâ’idah, Bani Jusyam, Bani al Aus, Bani dan Bani Tsa’labah yang merupakan kerabat kaum Yahudi yang tinggal di luar kota Madinah.
  3. Tidak ada seorang Yahudi pun yang dibenarkan ikut berperang, kecuali atas izin Nabi Muhammad SAW.
  4. Kaum Yahudi berkewajiban menanggung biaya perang kaum Muslimin dan kaum Muslimin pun juga berkewajiban menanggung biaya perang kaum Yahudi.
  5. Kaum muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang yang memusuhi pendukung piagam ini, saling memberi nasehat serta membela pihak yang terzhalimi

D. Point-Point Yang Berkait Dengan Ketentuan Umum

  1. Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya suci bagi warga pendukung piagam ini. Dan sesungguhnya orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dan tidak khianat. Jaminan tidak boleh diberikan kecuali dengan seizin pendukung piagam ini.
  2. Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, maka penyelesaiannya menurut Allah dan Nabi-Nya, Muhammad SAW.
  3. Kaum kafir Quraisy (Mekkah) dan juga pendukung mereka tidak boleh diberikan jaminan keselamatan dan keamanan.
  4. Para pendukung piagam harus saling membantu dalam menghadapi musuh yang menyerang kota Yatsrib (Madinah).
  5. Orang yang keluar (bepergian) aman, orang berada di Madinah juga aman, kecuali mereka-mereka yang berbuat zhalim dan khianat. Dan Allah beserta Nabi-Nya adalah penjamin bagi orang yang baik dan bertakwa.

Hikmah dan Pelajaran yang Dapat Diambil dari Piagam Madinah

  1. Piagam ini dianggap sebagai peraturan hukum tertulis pertama di dunia.
  2. Ulama sejarah tidak mengatakan bahwa diantara hukum-hukum yang tercantum dalam piagam ini ada yang dinasakh (dihapus) kecuali perjanjian dengan Yahudi atau non muslim dengan tanpa kewajiban membayar jizyah (pajak). Hukum ini terhapus dengan firman Allah Azza wa Jalla dalam Surat at Taubah : 29.
  3. Sebagian para ulama mengatakan bahwa hubungan kaum muslimin dengan Yahudi yang terdapat dalam piagam tersebut sejalan dengan firman Allah dalam al Qur’an Surat al Mumtahanah/60 : 8.
  4. Piagam ini telah mengatur berbagai sisi kehidupan umat.
  5. Dalam piagam ini terdapat landasan perundang-undangan, misalnya:a. Pembentukan umat berdasarkan aqidah dan agama sehingga mencakup seluruh kaum muslimin dimanapun berada.
    b. Pembentukan umat atau jama’ah berdasarkan tempat tinggal, sehingga mencakup muslim dan non muslim yang tinggal disana.
    c. Adanya persamaan dalam pergaulan secara umum.
    d. Larangan melindungi pelaku kriminal.
    e. Larangan bagi kaum Yahudi untuk ikut berperang kecuali dengan izin Muhammad SAW.
    f. Larangan perbuatan zhalim pada harta, kehormatan dan lain sebagainya.
    g. Larangan melakukan perjanjian damai secara pribadi dengan musuh.
    h. Larangan melindungi pihak musuh.
    i. Keharusan ikut andil dalam pembiayaan yang diperlukan dalam rangka membela negara.
    j. Keharusan membayar diyat dari yang melakukan pembunuhan.
    k. Tebusan tawanan.
    l. Melestarikan kebiasaan yang baik.

 

habib ali toleran terhadap para pendeta nasrani
Habib Ali Al-Jufri bersama Pendeta.

Baca Juga: Keutamaan Kota Madinah dalam Pandangan Islam

Tinggalkan komentar