Kesalahan-kesalahan dalam Sholat Jamak

Kesalahan-kesalahan dalam Sholat Jamak – Mengerjakan kewajiban sholat 5 waktu merupakan hal yang sangat penting bagi setiap muslim. Jika seorang muslim meninggalkannya dengan kesengajaan, maka dia akan mendapatkan dosa yang begitu besar. Dosa-dosa besar inilah yang nanti bisa menghalangi rezeki seseorang.

Namun, dalam mengerjakan kewajiban, seseorang tidak bisa hanya bermodal semangat saja. Setiap kondisi dan waktu tertentu, ada tatacara tersendiri yang setiap muslim harus paham. Sehingga kelak ketika hendak mengerjakan kewajiban, tidak mengalami kesalahan di dalamnya.

Sholat Jamak

Diantara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia menjelang lebaran adalah pulang kampung. Tidak sedikit para perantau yang berada di tanah seberang pulang ke kampung halamannya masing-masing, walaupun harus menempuh jalan yang tidak pendek. Ini semua dilakukan demi berjumpa dengan orang-orang yang dikasihi.

Berbicara tentang mudik dan kaum muslimin, tidak akan dipisahkan dari yang namanya sholat jamak. Diantara rukhshoh atau keringanan yang diambil oleh para pemudik adalah sholat jamak. Pada artikel yang lalu, kami telah membahas niat serta tatacara melaksanakan sholat jamak yang sesuai syariat.

Baca: Niat dan Tatacara Melaksanakan Sholat Jamak dan Qashar

Saat Diperbolehkannya Kita Melaksanakan Sholat Jamak

Shalat jamak yaitu mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu. Contoh: Shalat Zhuhur dilakukan di waktu Ashar. Artinya, saat masuk waktu Dzuhur ia tidak melakukan Shalat Dzuhur, akan tetapi dilakukan di waktu Ashar. Maka setelah masuk Ashar orang tersebut melakukan Shalat Dzuhur kemudian melakukan Shalat Ashar

Shalat yang bisa dijamak adalah;

  • Shalat Zhuhur dikumpulkan dengan Shalat ‘Ashar
  • Shalat Maghrib dikumpulkan dengan Shalat ‘Isya
  • Adapun Shalat Shubuh tidak bisa dijamak dengan shalat apapun

Bepergian Jarak Jauh

Jika seseorang dalam perjalanan jauh maka ia boleh menjamak dan meng-qashar shalat biarpun dalam keadaan jalan lancar tanpa ada kemacetan. Bepergian jauh dalam masalah ini adalah bepergian yang jarak tempuh menuju tempat tujuannya mencapai 84 km. Contohnya, perjalanan dari Jawa Timur menuju Jakarta, maka ini diperbolehkan untuk meng-qashar-nya.

Bepergian Jarak Pendek

Yaitu perjalanan yang jarak tempuh menuju tempat tujuannya tidak mencapai 84 Km. Dalam hal ini bagi seseorang yang bepergian dengan perjalanan pendek diperkenankan menjama’ dengan 2 syarat:

a) Berada di dalam bepergian atau berniat melakukan bepergian. Misal : Pada hari senin, seseorang yang tinggal di Bogor ingin pergi ke Jakarta. Maka orang tersebut disebut berniat bepergian. Atau orang tersebut sudah meninggalkan kampungnya maka ia disebut bepergian.

b) Ada dugaan jalan macet atau tiba-tiba terkena macet yang merepotkannya untuk bisa turun untuk melakukan Shalat.

Kesalahan dalam Sholat Jamak

Banyaknya kaum muslim yang menggunakan keringanan ini, memang tidak ada salahnya. Hanya saja, menjadi masalah apabila pelaksanaan dari sholat jamak ataupun qashar itu sendiri dilaksanakan dengan niat dan tatacara yang keliru. Kesalahan pada niat dan cara pelaksanaan tentu akan berakibat fatal, dimana ibadah itu sendiri tidak akan sah.

Oleh karena itu, kita sangat perlu mengetahui kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi, agar ibadah kita senantiasa terjaga dan dapat diterima oleh Allah Ta’ala.

a. Tidak Bersuci dengan Benar

tayammum sholat jamak
blogspot.com

Diantara syarat sah seseorang melaksanakan sholat adalah dengan bersuci dengan sempurna, yaitu berwudhu sesuai rukun-rukunnya. Dan jika tidak mampu atau tidak menemukan air dalam jarak tertentu, maka diperbolehkan bertayammum dengan menggunakan tanah yang berdebu.

Dalam tayammum, seseorang tidak diperbolehkan hanya menempelkan tangannya ke kursi, kaca ataupun jok mobil. Karena itu semua bukanlah tanah. Tidak cukup tayammum seseorang hanya menggunakan debu saja. Oleh karena itu, orang yang ingin bersuci tapi menggunakan kursi, kaca ataupun jok, bersucinya tidak sah.

Dengan kata lain, sholat yang ia laksanakan ketika itu pun tidak sah, karena syaratnya tidak terpenuhi.

b. Tidak Menunaikannya Sesuai Rukun

hidayatullah

Salah satu rukun sholat ialah berdiri, jika mampu. Mampu yang dimaksud di sini adalah mampu secara fisik. Jika seseorang masih bisa berdiri, walaupun harus meminta bantuan orang lain, maka ia wajib melaksanakan sholat dengan berdiri.

Bukanlah suatu alasan, tidak cukup tempat untuk berdiri (misalnya di dalam bus ataupun pesawat), untuk sholat dalam keadaan duduk. Jika ia sholat sambil duduk, padahal fisiknya kuat untuk berdiri, itu artinya salah satu rukun sholat tidak terpenuhi.

Dengan kata lain, sholatnya juga tidak sah karena rukunnya tidak sempurna.

c. Tidak Menutup Aurat dengan Sempurna

Ketika pemudik ingin pulang kampung, biasanya ia akan menggunakan pakaian yang paling keren yang ia punya. Tidak sedikit dari pakaian-pakaian tersebut yang sangat memungkinkan auratnya untuk terbuka.

Mungkin sering kita temui, orang-orang yang ketika sholat, ternyata (maaf) bokongnya terlihat. Tidak jarang pula kita menjumpai pakaian seseorang yang ada lubang di sekitar lutut atau pahanya. Apabila ini terjadi, maka sejatinya sholatnya tidaklah sah, karena salah satu syarat sah sholat, yaitu menutup aurta tidak tercukupi.

d. Tidak Berniat dengan Benar

shalat jamak di gunung
nettik

Apabila seseorang ingin menjamak atau menggabungkan dua sholat yang berbeda waktu menjadi satu waktu, maka dia harus berniat jamak dengan benar. Apabila ia memang sempat untuk melaksanakan kedua sholat tersebut di waktu sholat yang pertama, maka ia harus berniat jamak saat itu juga.

Sedangkan jika belum sempat, atau memang ingin mengambil keringanan menjamak sholat di waktu sholat yang kedua, maka hendaknya ia mulai berniat jamak ta’khir sejak saat itu juga.

e. Menyepelekan Kesucian Tempat

tempat sholat di jalan
uzone.id

Mudik dengan menggunakan bus atau kereta tentu akan berakhir di stasiun atau terminal tujuan. Hampir dipastikan, setiap tempat-tempat pemberhentian umum seperti itu memiliki masjid, mushola ataupun yang sejenisnya.

Di musim mudik, biasanya tempat semacam ini penuh dengan pemudik atau penduduk setempat. Maka, tidak sedikit jamaah yang akhirnya tidak mendapat tempat di dalam, sehingga harus sholat di luar area biasa digunakan untuk sholat.

Apabila itu yang terjadi, maka hendaknya seorang pemudik atau jamaah memperhatikan betul tempat dimana ia sholat. Karena, biasanya selain tempat sholat yang biasa dipakai, marbot atau orang yang menjaga masjid jarang memperhatikan kebersihan dan kesucian tempat lainnya. Oleh karena itu, pada hal ini, perlu menjadi perhatian tersendiri bagi orang yang sholat di tempat semacam itu.

Semoga tulisan ini dapat diambil pelajaran dan bermanfaat bagi setiap muslim agar bisa menjadi sosok muslim yang istiqomah dalam menjalankan ibadah sholat 5 waktu, Aamiin.

Baca juga: Kiat Agar Menjadi Pribadi yang Istiqomah

Leave a Comment