Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid

Keturunan Mulia Nabi Muhammad Sudah Punah?

SILSILAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW SUDAH TERPUTUS?

Diantara syubhat yang banyak disebarkan kepada masyarakat awam dengan tujuan menjauhkan ulama, terutamanya yang memiliki nasab hingga Rasulullah SAW, adalah syubhat bahwasannya keturunan dari manusia agung, Rasulullah SAW, sudah terputus. Artinya, tidak ada lagi yang namanya cucu Rasulullah SAW ataupun keturunan Rasulullah SAW.

Namun, benarkah demikian?

SIAPA YANG PERTAMA KALI MENGATAKAN BAHWA KETURUNAN NABI SAW TERPUTUS?

Orang yang pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW putus keturunannya bernama Al ‘Ash bin Al Wail Assahmy.

Ini terjadi ketika wafat putra Nabi Muhammad SAW yang bernama Qasim (dalam riwayat lain Ibrohim), Al ‘Ash berkata “Muhammad putus keturunannya”.

Perlakuan/perkataan Al ‘Ash tersebut membuat sakit hati Pimpinan Para Rasul tersebut. Dalam kesedihannya Rasulullah SAW tertidur, kemudian Allah SWT menghibur beliau dengan turunnya Surat Al Kautsar sekaligus sebagai bantahan terhadap ucapan Al ‘Ash tersebut dengan Firman Nya:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS Al-Kautsar: 1-3)

Lihatlah betapa Allah murka terhadap orang yang telah membuat sedih kekasihnya tersebut, hingga Allah menyebutnya “musuhmu”. Hal ini karena Al ‘Ash telah lancang dengan berkata bahwa “Muhammad putus keturunannya”. Semoga kita tidak mengikuti jejak Al ‘Ash. Aamiin.

DO’A NABI SAW UNTUK KEBERKAHAN KETURUNAN DARI ANAKNYA, FATHIMAH AZ-ZAHRA

Do’a Nabi SAW untuk Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra.

“Ya Allah, berkahilah keturunan mereka berdua” (H.R. An Nasai)

“ Semoga Allah mengeluarkan dari mereka berdua keturunan yang banyak dan baik”. (H.R. Ahmad)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW berdo’a “ Semoga Allah merukunkan mereka berdua dan memperbaiki kualitas keturunannya dan menjadikan keturunan mereka berdua pembuka pintu rahmat, sumber-sumber hikmah dan pemberi rasa aman bagi umat”. Hadits-hadits tersebut disebutkan dalam kitab Ash Shawaiq karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamy.

Apakah Allah Yang Maha Pemurah berkenan mengecewakan kekasihnya yang diutus sebagai Rahmat bagi seluruh umat itu?

ANAK LAKI-LAKI RASULULLAH SAW MENINGGAL SEMUA, LALU DARI SIAPA NASAB BAGINDA TERUS BERLANJUT?

Allah SWT mengkhususkan beberapa perkara untuk Rasulullah SAW yang tidak sama dengan umat Beliau. Contohnya adalah jumlah istri dan tentang nasab ini.

Ketika umat beliau dibatasi untuk memiliki maksimal 4 istri sekaligus, beliau diizinkan untuk lebih. Sedangkan dalam perkara nasab, berlanjutnya silsilah bagi umat Islam adalah melalui anak laki-laki. Namun, khusus Baginda Nabi SAW, jalur nasab beliau turun melalui anaknya, Sayyidah Fathimah Az-Zahra.

“Setiap anak bernisbah kepada ayahnya kecuali anak-anak Fathimah, akulah wali dan nisbahnya” (H.R. Hakim).

“Setiap sebab (penyebab pertalian keturunan) mahupun nasab (pengikat garis keturunan) akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku. Dan setiap keturunan dinisbatkan kepada pengikat keturunannya yakni ayah mereka, kecuali putera-putera Fatimah, maka sesungguhnya akulah ayah mereka dan tali pengikat keturunan mereka” (Riwayat Al-Baihaqi, Al-Tabrani & lain-lain)

—————

Al Imam Musa Al Kadzim bin Ja’far Ashshodiq {bin Muhammad Al Baghir bin Ali Assajjad bin Al Husen putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW}, pernah ditanya oleh Harun Ar Rasyid,

“Kalian mengaku keturunan Nabi Muhammad, bukankah seseorang bernisbah kepada kakek dari ayah bukan kakek dari ibu?”

Al Imam Musa membaca Surat Al An’am, ayat 84-85 yang berbunyi,

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. – Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh”.

Lalu Beliau berkata “Bukankah Nabi Isa tidak mempunyai ayah?” tetapi dalam ayat ini Nabi Isa dikelompokan dalam cucu keturunan Nabi Nuh AS, begitu pula yang terjadi pada kami”.

IMAM MUHAMMAD/AHMAD BIN ABDULLAH AL-MAHDI ADALAH CUCU RASULULLAH SAW

Rasulullah SAW bersabda;

“Tidak akan sirna (berakhir) dunia ini sampai ada seorang laki–laki dari keluargaku yang akan memimpin bangsa Arab, namanya sesuai dengan namaku.” (HR Abu Dawud)

“Kalau saja tidak tersisa dari dunia ini kecuali sehari saja, (Za`idah berkata dalam haditsnya) sungguh Allah akan memanjangkan hari tersebut sampai Allah mengutus kepadanya seorang laki-laki dari KETURUNANKU atau dari KELUARGAKU. Namanya sesuai dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku, yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) dunia telah dipenuhi dengan kedzaliman dan kelaliman.” (HR Abu Dawud)

“Al-Mahdi berasal dari KETURUNANKU, keturunan dari Fathimah.” (HR. Abu Dawud no. 4284, At-Tirmidzi, Ibnu Majah no. 4086)

Dan menurut Ahlussunnah wal Jamaah, kelak Imam Mahdi adalah cucu Rasulullah SAW dari keturunan Imam Hasan bin Ali semoga Allah meridhoi mereka dan keluarganya.

BERPEGANG TEGUH KEPADA QUR’AN DAN AHLI BAIT NABI SAW

“Kutinggalkan kepada kalian dua peninggalan: KITABULLAH sebagai tali yang terbentang antara langit dan bumi, dan KETURUNANKU (AHLUL BAITKU). Sesungguhnya kedua-duanya itu tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Haudh (telaga di surga)”.

(HR Imam Ahmad bin Hanbal dari hadits Zaid bin Tsabit dan dari dua shohih Bukhori-Muslim. Yang pertama pada halaman 182 dan yang kedua pada akhir halaman 189 jilid V. Dikeluarkan juga oleh Abu Syaibah, Abu Ya’la dan Ibnu Sa’ad. ‘Kanzul Ummal’ jilid 1, halaman 47 hadits no.945).

Kutipan dari FB Abu Nawas Majdub, dari Habib Muhammad bin Alwy al-Haddad disertai tambahan. Wallahu a’lam.

19 pemikiran pada “Keturunan Mulia Nabi Muhammad Sudah Punah?

  1. berarti matrilineal dong, setau saya islam itu bin/binti bapak nya. kecuali anak yang lahir diluar perkawinan harus bin/binti ibu nya.
    harusnya hasan dan husein itu bin ali bin abi thalib RA. jadi keturunan ali bin abi thalib. bukan bin fatimah binti muhammad.

  2. ISLAM TIDAK MENGENAL ISTILAH KETURUNAN RASUL, KETURUNAN NABI ATAUPUN KETURUNAN AHLUL BAIT

    Ada artikel dengan judul: Keturunan Mulia Nabi Muhammad Sudah Punah?

    http://nettik.net/keturunan-nabi-muhammad/

    Dari judulnya, si penulis sudah terkesan ‘melecehkan’ Nabi Muhammad SAW dengan menganggap keturunan Nabi Muhammad SAW sudah punah? Kata ‘sudah punah’ ini tidak elok dan wajar ditempat sebagai judul suatu artikel yang membahas peran dan keturunan Nabi Muhammad SAW, apa tidak ada kata lain selain ‘PUNAH” itu? Ya saya hanya bisa berucap ASTAGHFIRULLAH.

    Selanjutnya sang penulis mengemukakan sbb.: Diantara syubhat yang banyak disebarkan kepada masyarakat awam dengan tujuan menjauhkan ulama, terutamanya yang memiliki nasab hingga Rasulullah SAW, adalah syubhat bahwasannya keturunan dari manusia agung, Rasulullah SAW, sudah terputus. Artinya, tidak ada lagi yang namanya cucu Rasulullah SAW ataupun keturunan Rasulullah SAW.

    Komentar soal ini bukan masalah syubhat tapi soal kenyataan dan ada dalil yang kuat. Timbul pertanyaan: APAKAH ADA DALAM AL QURAN ISTILAH KETURUNAN NABI, KETURUNAN RASUL ATAU KETURUNAN AHLUL BAIT!!!

    Dari hasil pencarian ternyata dalam Kitab suci kita, Al Quran tidak dikenal adanya istilah ‘keturunan nabi’ atau keturunan rasul atau keturunan ahlul bait sama sekali. Lalu mengapa kita lihat masih ada ‘orang-orang’ atau kelompok atau dinasti keluarga yang BERANI mengaku bahwa mereka adalah ‘keturunan’ nabi atau keturunan rasul atau keturunan ahlul bait???

    Selanjutnya penulis artikel berdalih pada:

    Sedangkan dalam perkara nasab, berlanjutnya silsilah bagi umat Islam adalah melalui anak laki-laki. Namun, khusus Baginda Nabi SAW, jalur nasab beliau turun melalui anaknya, Sayyidah Fathimah Az-Zahra.

    “Setiap anak bernisbah kepada ayahnya kecuali anak-anak Fathimah, akulah wali dan nisbahnya” (H.R. Hakim).

    Simak jawaban dan tanggapan masalah dan dalil di atas sbb.:

    Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ﴾SQS. Al Ahzab, 33:5﴿

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Simak keyakinan kelompok yang ‘ngaku‘ sebagai keturunan rasul dengan pijakan kuat sbb.:

    Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith menyatakan bahwa fenomena itu perlu diluruskan.

    Menurutnya, habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicintai. Adapun, habaib adalah kata jamak dari habib. Jadi tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

    Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Zen menjelaskan, di Indonesia para keturunan Rasullullah banyak yang berasal dari Husein. Maka banyak yang disebut sayyid.

    Sementara keturunan-keturunan Hasan kebanyakan menjadi raja atau presiden seperti di Maroko, Jordania, dan kawasan Timur Tengah. Pertama kali ulama-ulama dari Yaman atau Hadramaut masuk ke Indonesia di beberapa daerah. Karena adanya akulturasi budaya, sebutan sayyid di Aceh berubah menjadi Said, di Sumatra Barat menjadi Sidi dan lain sebagainya.

    http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat

    http://www.islamnusantara.com/habib-lutfi-islam-itu-kaya-santri-jangan-hanya-belajar-halal-haram-saja/#comment-860

  3. sebagai orang awam yang baru belajar ilmu agama saya masih bingung.. dengan artikel ini.. karna ada sebagian comentar yang membantah nya.. tolong penjelasanya lebih lanjut..

  4. yang masih belum paham dan masìh membantah dgn keturunan Baginda Rasulullah Muhammad S.A.W, dari jalur Sayyidah Fatimah Az-Zahra r.a.monggo, di indonesia banyak pondok pesantren, saya yakin anda menemukan jawaban, kalem aja bro! Belajar agama jangan hanya pakai akal, jgn hanya pakai nalar, kadang hatipun masih membangkang, cobalah dengan mendekati para ulama’ salafus shaleh, yg dalam menyampaikan ilmu mereka tidak mengkafirkan, membid’ahkan, memerangi yang lain, termasuk para kafir dzimmi, gunakan ajaran nabi, kalau bahasa sekarang perlu diselidiki dari sumbernya, nah di pondok pesantren ada banyak referensi sumber yang bisa di baca dan di pahami, klo ga bisa baca ya mondok sekalian jadi santri, selamat mencoba! Shallu ‘alannabiy Muhammad!

    • ASSALAMU’ALAIKUM WR WB SAUDARAKU.
      ALLAHU AKBAR, SHALLU ‘ALANNABIY MUHAMMAD.
      Saya setuju dengan pendapat saudara,
      kalau ada orang yang bertanya tentang kejelasan mengenai mana dalilnya dst,
      maka kita yang bukan ahlinya kembalikan kepada guru kita. Sarankan beliau terebut agar langsung menuju guru kita, kalau memang beliau benar-benar ingin meluruskan maka langsung ke pakarnya secara mutawattir, jangan bikin bingung ummat.
      perdebatan kerap kali akan menimbulkan perpecahan. WAALLU A’LAM BISSHOWAB

    • ALLOHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD, Sudah jelas Imam Mahdi kata Rosululloh dari keturunannya yang namanya seperti namaku, ini membuktikan keturunan Rosululoh tidak terputus. Rosululloh berkata siapa yang mencintaiku, cintailah keluargaku.

  5. Ass,…Bagi yang tidak mau mengakui keturunan dan dzuriyat Nabi, Saw,….apa rugi nya bagi Nabi, Saw,…..Sampean sendiri yg rugi besar,….belajar agamanya salah metode nya,….

  6. Ass,…saudara2 ku yang tercinta ..Sy. sangat setuju BAHWA KETURUNAN BAGINDA RASUL SAW. tidak akan punah sampai hari kiamat,…..para wali & para Habib itu semua keturunan Rasul saw. dari Husein Putra beliau Ali ra dan Siti Fatimah …subhanallah..

  7. KETURUNAN RASULULLAH MUHAMMAD SAW TETAP BERLANJUT DAN BAHKAN HUBUNGAN MEREKA BERLANJUT SAMPAI DI ALAM AKHIRAT…….
    Pendapat Syeikh Abdul ‘Aziz Bin Baz
    Seorang Mufti resmi kerajaan Saudi Arabia salah satu ulama dari golongan Wahabi Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya oleh saudara kita dari Iraq mengenai anak cucu Rasulallah saw. yang memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang tidak semestinya mereka lakukan. Jawaban Syeikh terhadap pertanyaan saudara dari Iraq ini dimuat dalam majalah ‘AL-MADINAH’halaman 9 nomer 5692 tanggal 07- Muharram 1402 H bertepatan tanggal 24 oktober 1982 sebagai berikut:
    “Orang-orang seperti mereka (cucu Nabi saw.) itu terdapat diberbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelar ‘Syarif ’. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan ahlulbait Rasulallah saw. Diantara mereka itu ada yang silsilahnya berasal dari Al-Hasan ra. dan ada pula yang berasal dari Al-Husain ra. Ada yang dikenal dengan gelar‘Sayyid’ dan ada juga yang dikenal dengan gelar ‘Syarif’. Itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di Yaman dan di negeri-negeri lain. Mereka itu sesungguhnya wajib bertaqwa kepada Allah dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka. Semestinya mereka itu harus menjadi orang-orang yang paling menjauhi segala macam keburukan.
    Kemuliaan silsilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalah gunakan oleh orang yang bersangkutan. Jika mereka diberi sesuatu dari Baitul-Mal itu memang telah menjadi hak yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Pem- berian halal lainnya yang bukan zakat, tidak ada salahnya kalau mereka itu mau menerimanya. Akan tetapi kalau silsilah yang mulia itu disalahgunakan, lalu ia beranggapan bahwa orang yang mempunyai silsilah itu dapat mewajib kan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh itu merupakan per buatan yang tidak patut. Keturunan Rasulallah saw. adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal/utama dikalangan orang-orang Arab. Karenanya tidak patut kalau mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka sendiri, baik berupa perbuatan, ucapan ataupun perilaku yang rendah.
    Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan mem- berikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, atau memberi maaf atas kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan. Dalam sebuah hadits Rasulallah saw. berulang-ulang mewanti-wanti: ‘Kalian kuingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku…kalian kuingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku’. Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaaf kan kekeliruan mereka yang bersifat pribadi, menghargai mereka sesuai dengan derajatnya, dan membantu mereka pada saat-saat membutuhkan, semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka.”. Demikianlah pengakuan Syeikh Abdul Aziz bin Baz tentang masih wujudnya cucu nabi saw.
    Pendapat Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
    H.Rifai, seorang Indonesia Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam Bijlmermeer, Belanda pada tanggal 30 desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan,‘Benarkah habib Ali Kwitang dan habib Tanggul keturunan Rasulallah saw.’ ?, dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
    Oleh Menteri Agama hal ini diserahkan kepada Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Sebagian isi yang kami kutip mengenai penjelasan Prof.Dr.H. HAMKA tentang gelar Sayyid yang dimuat dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 sebagai berikut:
    “Rasulallah saw. mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau saw. dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayyidjamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘kedua anakku ini menjadi Sayyid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.
    Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayyid Al-Qadri. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayyid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.
    Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Fagih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.
    Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.
    Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia , pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Ba’alwi (Alawiyyun), menganjurkan agar yang bukan keturunan Al-Hasan dan Al-Husain memakai juga titel Sayyid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturun an Arab Indonesia bersatu, dengan pimpinan A.R.Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan ‘Al-Akh’ artinya Saudara.
    Selanjutnya kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”. (Demikianlah nukilan dan susunan secara bebas mengenai penjelasan Prof.Dr.HAMKA tentang gelar Sayyid).
    Bila ada keturunan Rasulullah SAW yang melanggar syariat (bermasksiat) maka tidak boleh ditiru dan tetap bersalah, begitu pula bila ada seseorang yang mengaku keturunan Rasulullah (Habib/Sayyid), kemudian bertingkah laku yang meresahkan atau kurang baik, maka hal tersebut terjadi kemungkinan karena salah satu dari tiga hal yaitu :
    a. Boleh jadi orang tersebut hanyalah mengaku-ngaku saja untuk mencari keuntungan atau manfaat dunia semata, bahkanpula sengaja ingin mencemarkan nama baik keturunan Rasulullah SAW, dan itu sudah banyak terjadi. Hal ini biasanya didasari oleh rasa hasud.
    b. Bisa jadi orang tersebut hanya orang arab biasa yang mengaku-ngaku keturunan Rasulullah SAW yang bertujuan sama. Setiap keturunan Rasulullah SAW (sayid atau Habib) adalah orang Arab, tetapi tidak semua orang Arab itu keturunan Rasulullah SAW.
    c. Bisa jadi orang tersebut benar-benar keturunan Rasulullah SAW yang berakhlaq tidak baik dan mempunyai kebiasaan yang kurang baik, namun satu hal yang perlu diingat bahwa mereka manusia juga, bukan malaikat yang tidak punya nafsu dan tidak tergoda oleh syetan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ahzab, ayat 33 : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.
    Dan ulama berkata : tidak disebut pensucian bila tidak ada kotoran, sesuatu yang disucikan adalah karena sebelumnya ada kotoran. Oleh karena itu kita jangan diam bahkan dianjurkan untuk menasehati atau menegurnya, dan itu merupakan salah satu bentuk cinta dan perhatian kita. Bukankah Rasulullah SAW akan merasa senang jika ada yang memperhatikan keturunannya????
    Bila anda mendapati (bertemu) dengan keturunan Rasulullah yang demikian, maka hal-hal yang dapat anda lakukan adalah :
    a. Tanya Nasabnya, apakah ia benar-benar keturunan Rasulullah SAW
    b. Tanyakan kepadanya, apakah mereka mengenal habaib-habaib yang lain?, adakah habaib yang mereka kenal?, lalu sebutkan nama-nama habaib yang berakhlaq baik agar hal tersebut sekaligus menjadi teguran baginya.
    c. Hubungi habaib yang terdekat, yang anda kenal dengan baik atau hubungi no telp. ……………….. agar habib tersebut menasehatinya.
    9. Hampir setiap tokoh penyebar Islam yang mengayomi umat di berbagai penjuru dunia termasuk di pelosok nusantara adalah keturunan dari Al Hasan dan Al Husen. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan kecuali buah keberkahan d’oa dari Datuk mereka yaitu Rasulullah SAW pada malam pernikahan antara kakek dan nenek mereka yaitu Imam Ali dan Sayidah Fatimah.
    Sekedar bahan untuk direnungkan bahwa Nabi kita Nabi Muhammad SAW sangat penuh kasih sayang, baik terhadap umatnya, sahabat, keluarganya, atau keturunannya. Jika beliau tidak menginginkan seorangpun umatnya masuk ke dalam neraka, apakah beliau rela kerabatnya masuk ke dalamnya????.

Tinggalkan komentar