Tahukah Kamu Fitnah Dajjal yang Pertama?

Menurut seorang ahli yang bernama Dr Isa Daud, Dajjal telah dilahirkan di Mesir sejak 100 tahun sebelum Nabi Musa lahir. Ia lahir dengan nama Musa, yang dalam bahasa Mesir berarti terapung. Pada masa ia masih bayi, Musa (Dajjal) ini memang pernah terapung di air ketika tsunami menghantam kampungnya, Samirah. Karena berasal dari Samirah pula, ia memiliki nama lengkap Musa Samiri.

Orang tua Musa Samiri adalah masih sedarah (kakak dan adik) sehingga memiliki anak yang cacat. Cacat pada diri Musa Samiri adalah pada matanya yang buta sebelah. Mata kanannya menonjol dan berwarna gelap, berbeda dari warna mata yang buta pada umumnya.

Sejak kelahirannya, bayi yang kelak menjadi Dajjal ini tidak pernah mau menyusu dan hanya tidur saja. Bayi itu terus tertidur hingga 2 bulan lamanya, akan tetapi masih hidup juga. Karena susu yang ada di payudara ibunya itu tidak dikeluarkan, akhirnya payudaranya pun semakin membengkak dan berakhir dengan meninggalnya sang ibu.

Suatu ketika, Samirah dilanda gempa besar yang mengakibatkan tsunami. Pada saat itu, si bayi selamat dengan terapung-apung di lautan. Kemudian, Allah mengutus malaikat Jibril untuk menolong bayi Musa Samiri ini. Ia pun diselamatkan dan ditaruh ke dalam sebuah gua. Di dalam gua itulah ia diasuh oleh malaikat Jibril dan diberi air susu dari surga yang keluar dari jempol malaikat yang mulia itu.

tsunami yang membuat dajjal kecil mengambang
wallpaperswide.com

Selama itu pulalah dia mulai mempelajari hal-hal dari malaikat Jibril. Ia memperhatikan, bahwa setiap benda yang disentuh oleh Jibril akan bisa hidup, seakan memiliki ruh. Ini pulalah sebab mengapa Jibril memiliki gelar Ruhul Qudus atau Ruhul Amin. Bahkan kononnya, ketika Nabi Isa as menghidupkan orang mati di hadapan kaumnya, Jibril ikut campur di dalamnya dengan menempelkan sayapnya ke arah kuburan orang mati itu.

Di usia remajanya, Musa Samiri (selanjutnya kita sebut dengan Samiri saja) keluar dari gua persembunyiannya tersebut. Ia keluar dan bercita-cita menjadi tuhan yang disembah oleh manusia. Hal ini karena ia merasa memiliki keistimewaan-keistimewaan berkat pergaulannya dengan Malaikat Jibril. Disamping itu, Samiri memang diberikan kelebihan oleh Allah dari segi kesehatan. Konon, Samiri tidak pernah tua dan pikun. Ketika ia mencapai usia 100 tahun, ia akan kembali menjadi muda semula.

Maka ia pun mulai berinisiatif untuk mempelajari ilmu sihir dari para penyihir Yaman. Ia mengunjungi dan belajar dari guru-guru sihir tersebut satu per satu hingga akhirnya ia berhasil mengalahkan semua tukang sihir. Dengan dasar inilah, hingga saat ini, Dajjal merupakan master di bidang sihir yang tidak memiliki tandingan, bahkan para setan pun tunduk dengannya.

Dalam perjalanannya, Samiri menyusup ke tengah-tengah Bani Israil ketika berhasil kabur dari kejaran Fir’aun. Maka, ketika Nabi Musa berangkat ke Bukit Tursina untuk menerima wahyu dari Allah, Samiri pun beraksi. Ia mulai membujuk masyarakat Bani Israil untuk membakar dan meleburkan emas-emas hasil rampasan dari tentara Fir’aun dengan alasan agar tidak memberatkan barang bawaan.‚Äč

Maka Bani Israil pun menyetujuinya dan mengumpulkan seluruh emas yang dibawa lalu dilebur menjadi satu. Oleh Samiri, ia membentuk emas yang sudah menjadi satu itu sehingga menjadi sebuah patung anak sapi. Dengan diberi sedikit tanah yang pernah disentuh oleh malaikat Jibril, maka patung tersebut pun bisa mengeluarkan suara-suara seakan-akan ia hidup.

Inilah fitnah atau penyesatan pertama Samiri (Dajjal) kepada umat manusia. Samiri Dajjal sangat cerdik sehingga bisa mempengaruhi Bani Israil yang notabene waktu itu masih diawasi oleh Nabi Harun a.s sekalipun. Ia menyesatkan Bani Israil dengan mengatakan bahwa Nabi Musa itu lupa dengan tuhannya (yang dimaksud adalah patung anak sapi itu) sehingga mereka pun mempercayainya. Kisah mengenai penyesatan Samiri Dajjal di zaman Nabi Musa ini tercatat di dalam Al-Quran surat Thaha.

Oleh karena itu, kita haruslah sangat berhati-hati terhadap fitnah Dajjal dan jangan sok kuat. Bayangkan saja, suatu kaum yang masih diawasi oleh seorang Nabi saja bisa disesatkan, apalagi kita yang sudah tidak ada lagi Nabi yang menjaga. Makanya, kita mesti mempelajari tipuan-tipuan Dajjal dan cara menghadapinya.

Wallahu a’lam

Tinggalkan komentar