Pentingnya Berniat pada Setiap Amal

Sudah menjadi kesepakatan ulama, baik salaf maupun khalaf, bahwa ada 2 hal yang menjadi syarat diterimanya amal ibadah seseorang;

  1. Niat yang ikhlas karena Allah.
  2. Mengikuti bimbingan dari Rasulullah SAW.

Misalnya dalam ibadah sholat, maka syarat diterimanya sholat kita, baik wajib maupun sunnah, adalah (1) kita sudah berniat dengan ikhlas semata-mata ibadah sholat kita hanya untuk Allah saja dan tidak ada penyebab lain kita sholat (misalkan kita sholat karena dilihat oleh orang, maka ini dilarang bahkan bisa jadi tidak diterima sholatnya) serta (2) kita mengikuti ajaran yang diajarkan oleh Nabi SAW yang kemudian disusun oleh para ulama sehingga yang kita kenal sekarang adalah syarat sah dan rukun shalat.

Artikel Terkait: Niat Shalat Qashar

Pemahaman yang Perlu Diluruskan

youtube.com

Namun, ada sedikit kesalahpahaman yang berujung fatal dalam masalah ini. Lantaran mayoritas masyarakat Indonesia yang bermadzhab Syafi’i ketika berniat mereka melafalkannya, (sebagian) orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka pun meninggalkan perkara yang sangat penting ini.

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Umar bin Khattab -semoga Allah meridhoinya- bahwa Nabi SAW bersabda;

 إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Artinya: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas adalah hadits yang tidak diragukan lagi akan kebenarannya. Disebutkan, bahwa setiap amal tergantung pada niatnya dan orang yang beramal hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. Ada orang yang niatnya tulus hanya karena Allah dan Rasul-Nya dan ada juga yang berniat karena urusan dunia.

Orang yang berniat karena Allah dan Rasul-Nya akan mendapatkan keridhaan (kepuasan) dari Allah dan Rasul-Nya serta mendapatkan balasan-balasan yang telah dijanjikan oleh-Nya.

Apabila kita berniat karena selain Allah, maka otomatis kita akan celaka, sebaik apapun amal ibadah kita. Sebagaimana yang terdapat di hadits yang cukup panjang mengenai kisah seorang syuhada, seorang qari’, seorang ulama dan dermawan yang dilemparkan ke jurang neraka lantaran niatnya hanya ingin disebut-sebut oleh manusia saja.

Pertanyaannya, bagaimana status orang yang ketika beramal dia tidak berniat sama sekali? Tidak (atau lupa) berniat untuk Allah, tapi juga tidak menginginkan hal-hal keduniaan dari ibadahnya?

Jawabannya adalah ibadah-ibadahnya tidak sah dan tidak diterima. Karena setiap ibadah memerlukan niat sebagai ‘kunci’ dari syarat sah untuk setiap amal sholeh kita.

Niat, Dilafalkan atau Tidak?

Apabila diperhatikan, kurang lebih akar permasalahan dari orang-orang meninggalkan niat adalah masalah pelafalan niat. Karena sudah terlanjur ‘alergi’ terhadap pelafalan niat, akhirnya niat (secara keseluruhan) pun ditinggalkannya. Padahal hukum berniat adalah wajib sedangkan melafalkannya terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih dalam 4 madzhab.

  1. Madzhab Hanafi, dalam pendapatnya yang mukhtar, madzhab Hanbali dengan penyesuaian kaedah madzhab serta madzhab Syafi’i berpendapat melafalkan niat adalah sunnah.
  2. Pendapat kedua yang diikuti oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Hanbali mengatakan bahwa melafalkan niat adalah makruh.
  3. Pendapat selanjutnya mengatakan, melafalkan niat hukumnya mubah dan lebih baik ditinggalkan. Akan tetapi apabila merasa was-was, maka disunnahkan untuk melafalkannya untuk menghilangkan rasa ragu.

Sedangkan dalil yang dijadikan dasar para ulama yang menganjurkan melafalkan niat dalam ibadah adalah hadits sebagai berikut ini:

عن أَنَسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata (ketika akan menunaikan ibadah haji dan umrah): “Aku penuhi panggilan-Mu, untuk menunaikan ibadah umrah dan haji.” HR Muslim.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalmam melafalkan niat dalam ibadah haji dan umrah. Apabila dalam satu ibadah, melafalkan niat itu dianjurkan, maka dalam ibadah lainnya juga dianjurkan, karena sama-sama ibadah. Dalam hadits lain juga diriwayatkan:

عَنْ عَائِشَة َأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا : هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ ؟ قَالَتْ لَا ، قَالَ : فَإِنِّي إذَنْ أَصُومُ ، قَالَتْ : وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ قُلْتُ نَعَمْ ، قَالَ : إذَنْ أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْتُ فَرَضْتُ الصَّوْمَ ” رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ

“Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apakah kalian mempunya makanan untuk sarapan?” Ia menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu, aku berniat puasa.” Aisyah berkata: “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Apakah kalian mempuanyai sesuatu (makanan)?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku niat berbuka, meskipun tadi aku bermaksud puasa.” HR. al-Daraquthni dan ia menshahihkan sanadnya.”

Dalam hadits di atas, jelas sekali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melafalkan niatnya untuk menunaikan ibadah puasa. Dalam ibadah puasa, melafalkan niat disunnahkan, berarti dalam ibadah yang lain juga dianjurkan karena sama-sama ibadah.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwasannya niat tidak diharuskan dengan lafal “Nawaitu showma ghodin…” atau “Usholli sholata…”. Yang demikian itu hanyalah susunan yang dirumuskan oleh ulama agar seragam dan sesuai dengan syarat-syarat niat.

sumber: idrusramli.com

Tinggalkan komentar