Kiat Mensucikan Hati: Membuang Sifat Tercela (3)

deloiz.blogspot.com

respondinginfaith.wordpress.com

Alhamdulillahi Rabbil-‘Alamin. Segala puji dan syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang masih memberi kita nikmat-nikmat yang tidak bisa kita hitung lagi jumlahnya. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi kita tercinta, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam edisi sebelumnya, di bagian terakhir, ada salah satu penyakit hati yang mana dia akan menjadi ‘sumbu’ dari penyakit-penyakit hati lainnya. Ya, dia adalah buruk sangka. Karena keterbatasan waktu, penjelasan tentang buruk sangka ini kurang lengkap.

Maka, sekarang Insya Allah kita akan membahas lebih jauh mengenai buruk sangka serta penyakit hati lainnya.

Buruk Sangka

bedrockdreams.com

Kata Pepatah, “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja”.

Menilai seseorang hanya dari luarannya saja bukanlah ajaran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW maupun Allah SWT. Karena urusan menilai hati itu hanya hak Allah semata, sebagaimana hadits Nabi;

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kekayaan kalian, akan tetapi Allah hanya melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim)


 

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya di Surat Al-Anfal ayat 39. Yaitu kisah mengenai sahabat Usamah yang dalam satu perang, beliau pernah berhadapan dengan seorang kafir. Ketika mereka berdua sedang bertarung dan si Kafir telah tak berdaya di hadapan Usamah, tiba-tiba si Kafir tadi mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, karena Usamah menganggap kalimat itu diucapkan hanya karena takut mati, beliau tidak memperdulikannya dan ditebaslah musuh di hadapannya itu.
Peristiwa ini diadukan kepada Rasulullah SAW, hingga kemudian Rasulullah memanggil Usamah lalu berbicara kepadanya,

أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Apakah engkau membunuhnya sesudah dia mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah?'”

Usamah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mengucapkannya hanya semata-mata untuk melindungi dirinya.”

Dengan nada tegas Rasulullah kembali bersabda,

هَلاَّ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ

“Apakah engkau belah dadanya untuk mengetahui isi hatinya?”

Rasulullah SAW mengulang-ulang sabdanya itu kepada Usamah seraya bersabda, “Siapakah yang akan membelamu terhadap kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ kelak di hari kiamat?” Usamah mengatakan bahwa ketika mendengar jawaban itu, Usamah berharap seandainya saja dia baru masuk Islam pada hari itu (yakni kerana merasa berdosa besar).


Dalam kisah ini ada setidaknya 2 pelajaran yang dapat kita ambil. Pertama, mengenai betapa mulianya kalimat ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Dan yang kedua, kita tidak boleh asal berprasangka buruk, lebih-lebih lagi terhadap saudara seiman kita sendiri.

Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

thomaslbrown.com

Larangan mencari-cari kesalahan orang lain atau tajassus terdapat dalam surat Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi;

quran.com

quran.com

Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”

Maka inilah nasehat beliau kepada orang-orang yang masih suka mencari kesalahan orang lain;

”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”


Mungkin cukup segitu saja yang saya sampaikan kali ini, karena saya kira 2 hal inilah akar dari penyakit hati lainnya. Insya Allah apabila kita sudah bisa mengendalikan yang ini, kita sudah aman dari yang lainnya.

Pada pembahasan berikutnya, jika Allah masih beri umur, kita akan menulis beberapa hal yang dapat kita amalkan untuk menghiasi hati kita. Wallahu a’lam.

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>