Mensucikan Hati: Membuang Sifat Tercela (2)

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengatur seluruh alam.
Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Alhamdulillah, ini adalah tulisan seri kedua dari pembahasan kiat-kiat mensucikan hati yang telah dibahas seminggu yang lalu. Sebagaimana yang telah disebutkan, langkah pertama dalam proses pembersihan hati ini adalah membuang terlebih dahulu sifat-sifat tercela yang ada di dalam hati sebelum menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Berikut ini adalah sifat-sifat yang perlu dibersihkan dari hati-hati kita.

Sombong

erabaru.net

Sombong atau dalam bahasa arab disebut dengan takabbur adalah sifat yang menurut penuturan dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai dua makna.

Dikisahkan ada seorang sahabat Nabi yang senang memakai baju dan sandal yang bagus. Akan tetapi beliau khawatir apabila memakai pakaian yang bagus akan termasuk dari golongan orang-orang yang sombong, maka beliau mengadukan hal tersebut kepada Nabi. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa sombong itu adalah apabila ada niatan merendahkan orang lain.

Jadi seseorang yang memakai pakaian atau perhiasan yang bagus belum tentu termasuk orang-orang yang sombong sebagaimana kisah sahabat Nabi tadi kecuali memang ada niatan ketika memakai baju bagus itu tadi untuk merendahkan orang yang tidak mempunyai pakaian seperti dia. Karena kesombongan itu dinilai oleh Allah dari apa yang ada di dalam hati.

Hal yang termasuk dalam kategori sombong yang kedua adalah menolak kebenaran. Misalkan kita diingatkan oleh seseorang yang lebih muda dari kita akan kesalahan kita. Kemudian kita menolak nasihat yang disampaikan itu sembari membela diri hanya karena penyampai-nya adalah seseorang yang lebih muda, meskipun kita sebetulnya juga tahu bahwa kita-lah yang salah. Maka yang seperti ini juga bisa dikategorikan termasuk kesombongan.

Sikap sombong ini bisa dibilang termasuk dosa yang besar karena Allah telah menyebutkan hukumannya di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. Diantaranya;

ahmadsudardi.blogspot.com
ahmadsudardi.blogspot.com

Bangga Terhadap Diri Sendiri

Bangga terhadap diri sendiri yang dilarang adalah ketika kita menganggap apa-apa yang kita lakukan adalah sepenuhnya karena usaha kita dan tidak menganggap adanya pertolongan dari Allah SWT.

Saya beri contoh kasus sebagai berikut;

Ada seorang anak berusia 8 tahun pergi ke sebuah pesantren untuk menghafal Al-Qur’an. Atas taqdir Allah, anak itu dapat menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya dengan sempurna dalam waktu 3 tahun.

Apabila dia bersyukur dan memuji Allah karena sadar atas pertolongan-Nya lah dia dapat menghafal Al-Qur’an, maka dia telah bersikap tepat. Namun, kalau dia banyak memuji dirinya sendiri seraya berkata, “Ini semua adalah karena jerih payah-ku selama 3 tahun di pesantren.”, maka dia telah tergelincir di sini.

Bangga terhadap diri sendiri di dalam ilmu syariat dikenal dengan istilah ‘ujub. Dan bisa fatal akibatnya apabila kita tergelincir dalam perkara ini.

embunhati.blogspot.com
embunhati.blogspot.com

Lagi pula apa gunanya kita membanggakan diri yang tidak ada apa-apanya dengan kekuasaan Allah ini? Tidakkah kita sadar bahwa kita ini makhluk yang sangat kecil lagi lemah?

Ilustrasi: Ketidakberdayaan manusia dihadapan makhluk Allah lainnya | ibtimes.co.uk

Berburuk Sangka

Sudah jelas dalam firman Allah  di surat Al-Hujuraat ayat 12, bahwasannya kita disuruh menjauhi banyak buruk sangka terutama kepada orang beriman. Firman Allah:

quran.com
quran.com

Menjaga hati dari buruk sangka adalah termasuk yang paling penting karena biasanya berawal dari sifat ini penyakit-penyakit hati lainnya bisa bertumbuh. Menurut hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, urutan penyakit-penyakit hati yang merusak hubungan persaudaraan adalah sebagai berikut:

1. Saling berburuk sangka.
2. Saling mencari kesalahan.
3. Saling memata-matai.
4. Saling dengki.
5. Saling membelakangi (menggunjing).
6. Saling benci.
7. Dan persaudaraan pun diakhiri dengan saling berpecah belah.


Mungkin untuk sekarang saya cukupkan tiga perkara dulu yang kita bahas. Insya Allah apabila masih Allah beri umur, minggu depan akan kita lanjutkan pembahasan ini. Wallahu a’lam.

Tinggalkan komentar