Mengenal Lebih Dekat Sosok si Singa Allah

Beliau adalah Sayyidina Hamzah bin Abdul Muth-tholib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ay bin Ghalib Al-Hasyimi Al-Quraisyi Radhiyallahu Anhu. Sahabat sekaligus paman dari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hamzah juga saudara sepersusuan dari Baginda Nabi, yang keduanya pernah disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Jahal. Rasulullah bersabda mengenai hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya ‘Ash-Shahabah hal 304, “Hamzah adalah saudara sepersusuanku.”

Selain itu, Hamzah juga dikenal sebagai pemuda yang mempunyai otak cerdas dan pendirian yang kuat dia juga termasuk tokoh Quraisy yang disegani.

Keislaman Hamzah bin Abdul Muth-tholib

Sebagaimana kebiasaannya, suatu hari Hamzah pernah keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah-nya untuk berburu hewan liar. Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di tempat perburuan tanpa mendapatkan hasil, ia pulang kembali ke kota Mekkah.

Belum pun sampai ke Ka’bah (pusat kota ketika itu), seorang budak perempuan milik Abdullah bin Ju’dan At-Taimi datang menghampirinya, “Hai Abu Umarah (laqab atau julukan Hamzah), andai saja pagi tadi kau melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abdul Hakam bin Hisyam (nama asli dari Abu Jahal) telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.”

Setelah mendengar hal itu, Hamzah diam merenung sejenak. Kemudian langsung berangkat ke Ka’bah sambil membawa busur yang ia bawa sejak berburu tadi. Sesampainya di Ka’bah, ia menjumpai Abu Jahal bersama beberapa pembesar Quraisy lainnya sedang berbincang-bincang.

Tanpa banyak bicara, langsung saja ia melepaskan busurnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal hingga ia tersungkur dan darah segar mengucur dari kepalanya.

Kemudian Hamzah membentak, “Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang ia katakan? Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu tadi kepadaku jika kamu berani!”

Beberapa pria dari Bani Makhzum sudah berdiri untuk membela Abu Jahal, namun ia melarangnya. Menurutnya, dirinya memang pantas mendapatkan pukulan itu karena sudah mencaci keponakan Hamzah bin Abdul Muth-tholib.

Pendeklarasian Hamzah di muka umum ini sedikit menambah kepercayaan diri umat Islam yang masih minoritas di Mekkah ketika itu.

Julukan

Beliau mempunyai beberapa julukan, antara lain Abu Umarah, Sayyidusy-Syuhadaa’ (Penghulu dari para syuhada). Pada masa jahiliyah beliau juga mempunyai julukan Singa Padang Pasir, namun, setelah masuk Islam julukan itu diganti dengan sebutan Singa Allah.

Dari Atha’ bin Jâbir ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Penghulu para syuhada’  pada hari kiamat adalah Hamzah bin `Abdul Muththalib”.

Sa’d bin Abi Waqqâsh ra mengatakan: “Dahulu Hamzah bin `Abdul Muththalib ra ikut serta dalam Perang Uhud dan di depan Rasulullah SAW ia mengatakan: “Aku adalah singa Allah Azza wa Jalla ”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Hamzah bin `Abdul Muththalib telah ditulis di langit ke tujuh bahwa dia adalah singa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya”

Perang Badar Al-Kubra

Hamzah hanya mengikuti dua peperangan dalam Islam. Salah satunya adalah Perang Badar Al-Kubra atau biasa disebut Perang Badar (saja). Mengapa disebut dengan Perang Badar? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena lokasi pertempuran berada di sekitar Sumur Badar. Dalam Perang Badar, beliau ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai komandan pertempuran.

kisahmuslim.com

Dalam Perang Badar al-Kubra, Hamzah adalah pejuang terdepan dalam mubârazah (perang tanding atau duel).

Ali Radhiyallahu anhu bercerita: “ Utbah bin Rabî`ah maju, kemudian diikuti oleh anak laki-laki dan saudaranya. Ia berseru : “Siapa yang akan maju tanding?”

Kemudian beberapa pemuda Anshâr pun meladeninya. Utbah bertanya: “Siapa kalian?”

Mereka pun memberitahukan diri mereka. Lalu Utbah berkata: “Kami tidak ada urusan dengan kalian, yang kami butuhkan hanyalah kaum kami.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berdirilah wahai Hamzah, berdirilah wahai Ali, berdirilah wahai Ubadah bin al-Harits.”

Kemudian Hamzah mendatangi Utbah, aku (Ali) mendatangi Syaibah, sedangkan Ubadah dan al-Walîd saling memukul 2 pukulan. Setelah kami (Ali dan Hamzah) mengalahkan musuh, lalu kami menuju al-Walîd dan membunuhnya. Kami membawa Ubâdah kembali ke pasukan kaum Muslimin.” (Imam Muslim, Ash-Shahabah hal 305)

Kisah ini menjelaskan bahwa Hamzah bin `Abdul Mutthalib ikut berduel dalam perang Badar.

Pada peperangan yang terjadi pada tahun 2 Hijriyah ini, 313 pasukan kaum muslimin berhadapan dengan 1000 lebih pasukan dari kaum kafir Quraisy. Namun, dengan usaha dan pertolongan dari Allah SWT, kaum muslimin dapat memenangi pertempuran tersebut. Sesuatu yang kelihatannya mustahil dengan izin Allah dapat terjadi.

Pertempuran ini juga sebagai ajang ‘balas dendam’ kepada kaum kafir Quraisy setelah sebelumnya kaum muslimin di kota Mekkah mendapatkan berbagai tekanan dan siksaan dari mereka.

Perang Uhud

Gunung Uhud | amazonaws.com

Pertempuran lain yang pernah diikuti Hamzah bin Abdul Muth-thalib ra adalah pertempuran yang terjadi di sekitar Gunung Uhud, atau biasa disebut dengan Perang Uhud. Peperangan ini sekaligus menjadi peperangan terakhir yang diikuti Hamzah ra karena di peperangan inilah beliau gugur sebagai Syahid di medan pertempuran.

Asal muasal terjadinya pertempuran ini adalah ketidakterimaan sebagian keluarga dari para pembesar kaum Quraisy terhadap banyaknya kerabat mereka yang wafat di Perang Badar. Salah satu tokoh yang paling memprofokasi orang-orang Quraisy adalah istri dari Abu Sufyan, Hindun bin ‘Utbah.

Hindun yang sangat marah ketika mendengar orang tua dan saudaranya meninggal di Perang Badar kemudian mengajak pemuda-pemuda Quraisy untuk membalas kematian saudara-saudara mereka. Hasilnya terkumpullah sekitar 3000 pasukan yang dibawa ke medan Uhud untuk memerangi kaum Muslimin.

Wafatnya si Singa Allah

Komplek pemakaman Syuhada Uhud | roymus.blogspot.com

Diantar 3000 pasukan ini, ada seorang budak dari Afrika yang khusus diutus oleh Hindun untuk menghabisi seseorang yang membunuh ayahnya di Perang Badar. Hamzah bin Abdul Muth-thalib. Wahsyi, nama budak ini, memang dikenal sebagai seorang pelempar tombak yang handal. Ia dijanjikan akan dibebaskan dan bisa menjadi orang yang merdeka apabila dapat membunuh Hamzah.

Kemudian pecahlah pertempuran, Wahsyi pun mulai mencari-cari dan mengintai Hamzah. Setelah dirasa mendapatkan posisi yang pas, langsung saja Wahsyi melemparkan tombaknya dan mengenai bagian perut dari sosok yang mulia ini. Tak lama kemudian, Hamzah meninggal dunia.

Seusai pertempuran, Hindun mencari-cari jasad Hamzah. Setelah ia menjumpai mayat Hamzah, rupanya ia mengambil pisau dan merobek dada jasad mulia ini. Dengan nafsu kebenciannya, dia pun memakan jantung milik Hamzah.

Rasulullah menangis bersedih ketika mendapat kabar syahidnya paman beliau, Hamzah bin Abdul Muth-tholib. Apalagi setelah mengetahui bahwa jasadnya telah dirusak. Beliau merasa amat marah sekaligus iba. Kemudian turun firman Allah untuk menenangkan beliau:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla mati, bahkan mereka hidup di sisi Allah SWT dan mereka diberi rezeki [Ali Imrân:169]


Selamat jalan wahai Singa Allah, semoga kami dapat mengikuti keberanian, kecerdasan dan pengorbananmu untuk Allah dan Rasul-Nya.


Pujian dan Kesaksian dari Sahabat Nabi.

Abdurrahmân bin Auf (salah seorang Sahabat yang dijamin masuk surga) memberikan syahâdah (persaksian) bahwa Hamzah lebih baik daripada dirinya.

Abdurrahmân bin Auf juga mengatakan: “Hamzah telah terbunuh, padahal dia adalah orang yang lebih baik dariku, kemudian dunia dilapangkan bagi kami, atau mengatakan kami mendapatkan kesenangan dunia. Sungguh, kami takut kebaikan-kebaikan kami diberikan (di dunia-pent).” Kemudian dia menangis dan meninggalkan makanan itu.” [hlm 186, nukilan dari al-Bukhâri no. 1275]

 

 

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>