Pentingnya Berniat Ketika Hendak Berpuasa

tribunnews.com

Bismillahirrahmanirrahim

Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan  oleh setiap orang yang mengaku sebagai seorang muslim sebagaimana yang tercatat dalam hadits berikut ini;

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان “

رواه البخاري و مسلم)

Artinya:

Dari Abu Abdur Rohman -Abdullah bin Umar bin Khoththob- r.a, Ia berkata: Saya telah mendengar Rosulullah SAW bersabda: ”Islam didirikan di atas lima perkara:  Pernyataan bahwa tiada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan haji di Baitullah, berpuasa di bulan Romadhon. [HR Buhkori dan Muslim]

Ulama berbeda pendapat mengenai status orang-orang yang tidak menunaikan puasa Ramadhan sedangkan ia seorang Muslim. akan tetapi semuanya bersepakat bahwa seorang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa udzur telah melakukan dosa yang sangat besar dan wajib untuk bertaubat nasuha.

Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, terdapat pula puasa-puasa sunnah yang bisa dilakukan di luar bulan Ramadhan. Diantaranya puasa senin-kamis, puasa dawud, puasa syawal, puasa arafah dan lain sebagainya.

niat berpuasa

i-cami.org

Baik puasa Ramadhan maupun puasa sunnah (dan seluruh amal ibadah) sama-sama memiliki 2 syarat utama yang dirumuskan oleh ulama agar puasa diterima oleh Allah SWT. Kedua syarat tersebut adalah (1) niat yang ikhlas hanya karena Allah dan (2) masih dalam tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Niat yang ikhlas maksudnya adalah beramal dengan tujuan untuk mencari kepuasan (ridho) dari Allah Ta’ala atau bisa juga untuk mengharapkan agar dengan amal tersebut kita bisa lebih dekat kepada Allah dan meraih pahala yang sudah dijanjikan. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Baginda Nabi SAW dalam potongan sabdanya:

انما الأعمال بالنيات

ِArtinya: Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niatnya. (HR Bukhari Muslim)

Sedangkan yang kedua, dalam beramal kita harus senantiasa berada dalam ajaran yang dibawa oleh Baginda Nabi SAW. Jangan sampai kita membuat puasa-puasa tersendiri yang tidak diajarkan dengan niatan yang tidak sejalan dengan syariat, misalnya puasa mutih, yaitu tidak mengonsumsi makanan yang berwarna putih, dengan tujuan agar tubuh menjadi kebal terhadap benda tajam dan puasa-puasa sejenis yang dimaksudkan untuk meraih tujuan yang tidak dikenal atau bahkan dilarang oleh syariat.

Ummul Mukminin Siti Aisyah meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW tentang himbauan agar tidak mengerjakan amalan nyeleneh yang amalan tersebut sama sekali tidak dapat dikembalikan terhadap ajaran beliau. Hadits tersebut berbunyi:

“Barangsiapa yang mengada ada suatu dalam urusan [agama] kami yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak.” HR Al-Bukhori dan Muslim

Cara Niat Puasa

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa niat adalah syarat sah semua ibadah. Tanpa niat maka semua jenis ibadah tidak sah dilakukan.

niat puasa di malam hari

7daftar.com

Contohnya seorang yang melakukan puasa di bulan Ramadhan, tapi dia tidak meniatkannya sejak malam (tabyiitunniyah), maka dia tetap haram makan dan minum di siang hari, namun puasanya tidak sah. Di lain hari, dia wajib mengganti puasanya yang tidak dilandasi niat sebelumnya.

Namun, niat melakukan ibadah berbeda dengan melafadzkan niat. Lafadz nawaitu shauma ghadin dan seterusnya bukanlah niat itu sendiri, melainkan hanya merupakan lafadz dari niat. Niat itu sendiri adanya di dalam hati.

Ketika seseorang berpuasa dan menyengaja di dalam hatinya bahwa dirinya akan melakukan puasa, itu namanya niat. Sebaliknya, seorang yang melafazkan lafadz niat juga belum tentu di dalam hatinya berniat melakukan puasa.

Misalnya, seorang guru TK sedangkan mengajarkan lafadz itu di depan murid-muridnya, meski dia mengucapkan lafadz itu belasan kali, tetapi kita tidak akan mengatakan bahwa ibu guru TK itu sedang berniat untuk puasa esok harinya. Dia hanya melafadzkannya saja, tanpa meniatkannya di dalam hati.

Demikian juga seorang dubber (pengisi suara) yang sedang rekaman. Meski dia merekam suara yang melafadzkan niat puasa, belum tentu di dalam hatinya dia berniat untuk puasa esok harinya.

Sebaliknya, seseorang mungkin saja berniat untuk puasa esok harinya, meski lidahnya tidak melafadzkan apapun. Sebab tempat niat itu memang bukan di lidah, melainkan apa yang terbersit di hati.

Sebagian ulama yang terlalu berhati-hati dengan masalah niat ini, sehingga saking tingginya kehati-hatiannya, sampai-sampai mereka menganjurkan untuk melafadzkan saja niat itu dengan lisan. Mungkin maksudnya, bisa lebih pasti dan lebih mantap, paling tidak bisa menjamin bahwa dirinya sudah berniat. Meski mereka tidak mewajibkannya, namun mereka menganjurkannya.

Baca: Pentingnya Berniat pada Setiap Amal

Sebagian kalangan lainnya mengatakan bahwa melafadzkan niat itu tidak menjadi kewajiban, syarat atau apapun. Bahkan kalau sampai ke tingkat keyakinan bahwa melafazkan niat itu suatu keharusan, sudah termasuk mengada-adakan perkara baru di dalam agama, padahal tidak diperintahkan dan tidak juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Tentu saja masalah ini sangat panjang diperdebatkan oleh para ulama, mulai dari yang menganjurkan sampai kepada yang membid’ahkannya. Semua tentu berangkat dari ingin mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah SWT. Bahwa di tengah jalan mereka berbeda pandangan, hal itu sangat wajar dan manusia, bahkan sejarah khilaf fiqih sudah dimulai sejak nabi masih hidup. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama kita tetap saling santun kepada sesama.

Wallahu a’lam.

sumber rujukan: rumahfiqih.com

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>