Pengertian dan Contoh Gurindam

gurindam 12 rajahajiali.com

Gurindam adalah salah satu puisi lama Melayu yang sejenis dengan pantun. Namun, tahukah Anda bahwasannya kata gurindam sendiri berasal dari bahasa Tamil (India)?

Meskipun gurindam lebih dikenal sebagai salah satu budaya Melayu, akan tetapi sebenarnya ia berasal dari sastra Hindu. Maka tak heran, asal kata gurindam sebenarnya adalah kikirindam, yang dalam bahasa Tamil berarti asal-mula atau perumpamaan.

Pengertian dan Ciri Gurindam

contoh gurindam

Gurindam tidaklah sama dengan pantun, banyak terjadi kesalahpahaman pada sisi ini. Apabila pantun harus terdiri dari 4 baris kalimat, maka gurindam adalah puisi lama yang cukup memiliki 2 baris kalimat pada tiap baitnya.

Artikel Terkait: Pengertian dan Ciri Pantun

Pada baris pertama, kalimat di dalamnya mesti berisikan sebuah masalah, soal ataupun perjanjian. Sedangkan di baris kedua berisikan kalimat solusi, akibat atau jawabannya. Jangan sampai lupa, rima yang ada pada gurindam ialah harus berpola a-a.

Contoh-contoh Gurindam

Bila punya sifat yang kikir,
Sanak saudara akan menyingkir.

Apabila sudah mencinta,
Maka cepatlah berumah tangga.

Bila semua menuntut ilmu,
Tiada manusia suka menipu.

Janganlah kamu berputus asa,
Meski nasib apa adanya.

Semakin lama semakin sabar,
Peluang sukses makin melebar.

Jangan menghina jangan memaki,
Mari kita perbaiki diri.

Mari fikir sebelum bertindak,
Agar kecewa bisa terelak.

Bila diri terburu-buru,
Tanda jiwa dikuasai nafsu.

Maka sabar lebih utama,
Agar di akhir dapat bahgia.

Gurindam Dua Belas (12)

gurindam 12

rajahajiali.com

Gurindam dua belas adalah susunan gurindam karya Raja Ali Haji yang merupakan sosok sastrawan sekaligus pahlawan nasional dari Provinsi Kepulauan Riau. Karya fenomenal ini diselesaikan pada tanggal 23 Rajab 1264 H atau 1847 Masehi yang saat itu usia Raja Ali Haji baru sekitar 38 tahun.

Gurindam ini terdiri dari 12 pasal yang masuk sebagai kategori Syi’r Al-Irsyadi yang berarti syair petunjuk. Disebut demikian karena gurindam ini berisikan petunjuk serta nasehat agar bisa meraih hidup yang diridhai Allah SWT.

Selain itu, di dalam gurindam dua belas ini juga diajarkan ilmu tasawuf, tentang mengenal “yang empat”. “Yang empat” di sini maksudnya adalah syariat, hakikat, makrifat dan tarekat.

Isi Gurindam 12

Pasal Satu

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat*.

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya* tiada ia menyalah*.

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri*.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang terpedaya*.

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat*.

Pasal Dua

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa*.

Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Pasal Tiga

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping*.

Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il* yang tiada senonoh*.

Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.

Pasal Empat

Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong*.

Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil* jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor*.

Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi*.

Pasal Lima

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai*,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Pasal Enam

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,

Pasal Tujuh

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.

Pasal Delapan

Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.

Pasal Sembilan

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaitulah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa*.

Kepada segala hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Pasal Sepuluh

Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai*.

Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kapil.

Pasal Sebelas

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai* yang cela.

Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.

Hendak marah,
Dahulukan hujjah*.

Hendak dimalui,
Jangan memalui.

Hendak ramai,
Murahkan perangai*.

Pasal Dua Belas

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.

Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat*.

Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa* dan cindai*.

Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Keterangan:

  • Bakhil ; kikir atau pelit
  • Balai : rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)
  • Bahri : hal mengenai lautan (luas)
  • Berperi : berkata-kata
  • Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga
  • Damping : dekat, karib, atau akrab
  • Fi’il : tingkah laku, perbuatan
  • Hujjah : tanda, bukti, atau alasan
  • Inayat : pertolongan atau bantuan
  • Kafill : majikan atau orang yang menanggung kerja
  • Kasa : kain putih yang halus
  • Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan
  • Ma’rifat : tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan yang kuat
  • Menyalah : melakukan kesalahan
  • Mudarat : sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
  • Pekong : (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk
  • Penggawa : kepala pasukan, kepala desa
  • Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan
  • Senonoh : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)
  • Tegah : menghentikan
  • Terpedaya : tertipu
  • Termasa : tamasya

sumber: kelasmayaku.wordpress.com

You Might Also Like

4 Comments

  1. 1

    sering denger tentang gurindam 12 ternyata terdiri dari pasal2 ya, saya pikir ada 12 bait. menyerupai pantun tapi lebih berisi nasehat

  2. 2

    kayaknya anak syaa harus belajar ini 🙂

  3. 3
  4. 4

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>