Mengenal Peristiwa-peristiwa Penting Dalam Sejarah di Bulan-bulan Hijriyah: Shafar


12 Bulan Islam dan Pembahasannya

MuharramShafar – Rabi’ul Awwal – Rabi’ul Akhir – Jumadil Ula – Jumadil Akhir – Rajab – Sya’ban – Ramadhan – Syawwal – Dzulqa’dah – Dzulhijjah


Shafar (ﺻﻔﺮ)

Bulan ini dinamakan dengan Shafar karena perkampungan Arab Shifr (kosong) dari penduduk, karena mereka keluar untuk perang. Ada yang mengatakan bahwa dinamakan dengan Shofar karena dulunya bangsa Arab memerangi berbagai kabilah sehingga kabilah yang mereka perangi menjadi Shifr (kosong) dari harta benda.

 Pada masa Jahiliyyah, sebagian besar masyarakat Arab mempunyai keyakinan bahwa bulan Shafar ini adalah bulan sial. Maka Rasulullah SAW menghapuskan keyakinan tersebut dengan sabdanya;

“Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari)

Pernikahan Rasulullah dengan Siti Khadijah

dailymoslem.com

Sekembalinya Rasulullah dari Syam ke Mekkah karena urusan perdagangan, Siti Khadijah melihat beliau adalah orang yang sangat amanah dalam mengelola dagangannya. Ditambah lagi dengan kesaksian dari budak laki-laki miliknya, Maysarah, bahwa Muhammad bin Abdullah (SAW) adalah seorang yang mempunyai sikap lemah lembut, perkataannya jujur, berakhlak mulia juga mempunyai metode berdagang yang amanah.

Maka Siti Khadijah pun seolah-olah sudah tahu, kepada siapa ia akan memberikan hatinya. Karena sebelumnya banyak juga dari bangsawan-bangsawan Quraisy yang datang melamarnya, namun ia menolak mereka semua.

Melalui Nafisah binti Muniyyah, Siti Khadijah menceritakan perasaannya tersebut dan meminta Nafisah untuk menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Setelah berunding dengan paman-paman Rasulullah, maka Rasulullah bersama paman-paman beliau pun berangkat untuk melamar Khadijah. Tidak lama setelah itu, pesta pernikahan dilangsungkan. Proses pernikahan ini dihadiri oleh para kerabat Nabi dari kalangan Bani Hasyim dan para pembesar kabilah Mudhar.

Dalam pernikahan ini, Rasulullah memberikan mahar berupa 20 ekor unta muda.

Peristiwa Al-Abwa

karavan-verblyudy-lyudi-solnce

likefon.com

Peristiwa Al-Abwa atau Waddan adalah pertempuran pertama yang melibatkan kaum Muslimin dan Rasulullah SAW. Sebetulnya lebih tepat disebut dengan penyergapan, dimana penyergapan inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya Perang Badar Al-Kubra.

Pertempuran yang terjadi di Waddan ini hanyalah pertempuran kecil, ianya hanya saling menembakkan anak panah tanpa jatuhnya korban.

Yang melatarbelakangi kejadian ini adalah pembalasan kaum Muslimin terhadap penindasan dan perampasan harta-harta mereka yang diambil oleh kaum kafir Quraisy ketika di Mekkah. Maka ketika kaum Muslimin mengetahui bahwa ada kafilah dagang milik Abu Sufyan melintas di dekat kota Madinah, mereka langsung berinisiatif untuk menyergap. Namun, Abu Sufyan rupanya sudah tahu rencana itu dan sudah meminta bantuan kepada kaum Quraisy yang ada di Mekkah.

Pasukan yang diminta oleh Abu Sufyan inilah yang kelak berjumpa dengan pasukan kaum Muslimin di Perang Badar Al-Kubra.

Tragedi Ar-Raji’ dan Bi’ru Ma’unah

Dua kejadian ini sama-sama terjadi pada bulan Shofar tahun ketiga dan keempat Hijriyah.

Tragedi Ar-Raji

kongthe.com

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyyah karangan DR Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthiy, bahwasannya beberapa utusan dari Kabilah Udlal dan Qarah datang kepada Rasulullah SAW, menceritakan bahwa berita tentang Islam telah sampai kepada mereka. Oleh sebab itu, mereka sangat membutuhkan orang-orang yang akan mengajarkan kepada mereka agama.

Kemudian Rasulullah saw mengutus beberapa orang dari sahabatnya. Antara lain : Murtsid bin Abi Murtsid, Khalid bin Al-Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Ady, Zaid bin Datsinah dan Abdullah bin Thariq. Rasulullah saw menunjukk Ashim bin Tasbit sebagai Amir mereka.

Namun, rupanya ketika kelompok dakwah ini sampai di daerah Usfan, mereka mendapat penyerangan dari Bani Hudzail. Maka, mereka semua meninggal dibunuh kecuali Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinah. Mereka berdua ditangkap dan dijual kepada kaum Quraisy. Khubaib dibeli oleh Bani Al-Harits sedangkan Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayyah.

Khubaib yang ketika Perang Badar berhasil membunuh Al-Harits, dibalas oleh kerabat Al-Harits dengan dieksekusi mati di luar daerah Al-Haram. Sebelum dieksekusi, Khubaib meminta izin untuk shalat 2 rakaat terlebih dahulu. Khubaib inilah yang pertama kali men-sunnah-kan shalat 2 rakaat sebelum dibunuh. Setelah melaksanakan shalat, Khubaib datang kepada mereka seraya berkata, “Kalau bukan karena khawatir kalian akan menyangka bahwa aku melakukan itu karena takut mati niscaya aku akan menambah shalat.”

Setelah itu Uqbah bin al-Harits maju membunuh Khubaib. Kemudian orang-orang Quraisy meminta agar salah satu dari bagian tubuh Khubaib yang masih bisa dikenali untuk dikirimkan kepada mereka. Karena Khubaib pernah membunuh salah seorang tokoh mereka pada Perang Badar. Tetapi Allah SWT menggagalkan niat buruk mereka dengan menyembunyikan jasadnya.

Ath-Thabary menambahkan sebuah riwayat dari Abi Kuraib, ia berkata:

“Telah menceritakan kepada kami Ja‘far bin Aun dari Ibrahim bin Ismail ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ja‘far bin Amir bin Umaiyyah dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW mengutusnya sendirian sebagai mata-mata kepada kaum Quraisy. Ia berkata, “Kemudian aku datang ke sebuah kayu tempat Khubaib dieksekusi, dengan sangat hati-hati. Lalu aku naik kepadanya kemudian aku lepaskan ikatakannya dan Khubaib pun lenyap seolah-olah ditelan oleh bumi. Sampai hari ini tidak diketahui tulang-tulang Khubaib itu.”

Ibnu Ishaq berkata:

“Adapun Zaid, dia dibeli oleh Shafwan bin Umaiyah. Ketika mereka membawanya keluar dari al-Haram untuk dibunuh, Abu Shafwan bertanya kepadaku, “Aku bersumpah padamu hai Zaid. Apakah kamu suka seandainya Muhammad sekarang ini kami hukum sebagai penggantimu dan engkau kami kembalikan kepada keluargamu?“ Jawab Zaid dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak rela jika Muhammad sekarang ini terkena duri sedikitpun sedangkan aku duduk bersama keluargaku.“

Mendengar jawaban ini Abu Shufyan berkomentar, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih dicintai oleh sahabatnya seperti kecintaan sahabat Muhammad terhadap Muhammad.“

Tragedi Bi’ru Ma’unah

souraiyafarina.wordpress.com

Amir bin Malik yang dikenal dengan Mula‘ibul Asnah datang kepada Nabi saw. Kemudian Nabi SAW menawarkan Islam kepadanya, tetapi dia tidak menerima, juga tidak menolak Islam. Dia hanya berkata kepada Nabi SAW, “Hai Muhammad, utuslah beberapa orang sahabatmu ke Nejd untuk berdakwah di sana. Saya yakin mereka akan menyambut agamamu!“ Nabi SAW menjawab :“Aku khawatir penduduk Nejd akan menyerang mereka.“ Amir berusaha meyakinkan, “Utuslah saja, aku yang akan melindungi dan menjamin mereka. Biarlah mereka mengajak kepada agamamu.“

Kemudian Nabi SAW mengutus 70 sahabat pilihannya. Pengiriman para da’i ini menurut riwayat Ibnu Ishaq dan Ibnu Katsir, dilakukan empat bulan setelah perang Uhud. Maka berangkatlah mereka hingga sampai di Bi‘ru Ma‘unah (nama sebuah desa).

Ketika sampai di tempat ini, diutuslah Haram bin Milham salah seorang dari delegasi da’i tersebut untuk menyampaikan surat Nabi saw kepada Amir bin Thufail. Belum sampai surat itu dibacanya, Amir bin Thufail langsung membunuh Haram bin Milhan. Menurut riwayat Bukhri dari Anas bin Malik bahwa ketika Haram bin Milhan ditikam dan darahnya muncrat di wajahnya, ia berteriak, “Aku telah sukses demi Rabb Ka‘bah“.

Kemudian Amir bin Thufail menggerakkan Bani Amir untuk menyerang pada da’i yang lainnya, tetapi Bani Amir menolaknya dan berkata :“Kami tidak akan mengkhianati Abu Barra‘ (Amir bin Malik)“. Lalu Amir bin Thufail meminta bantuan kepada kabilah-kabilah Sulaim dari suku Ushaiyyah, Ra‘I dan Dzakwan. Kabilah-kabilah ini menyambut ajakan Amir bin Thufail lalu mengepung dan menyerang mereka. Para da’i itu berusaha melakukan perlawanan tetapi tidak berdaya sampai semuanya gugur terbunuh.

Rasulullah saw merasakan kesedihan yang mendalam atas kematian delegasi da’i yang semuanya itu adalah sahabat beliau, sehingga selama sebulan penuh Rasulullah SAW melakukan qunut di shalat subuh mendoakan kecelakaan atas kabilah Ra’i, Dzakwan, Bani Lihyan dan Ushaiyyah.

Kemenangan Khaibar

kiblat.net

Menurut Ibnu Qayim Al Jauziyah dalam Zaadul Maad, sebetulnya waktu Rasulullah SAW keluar ke Khaibar adalah di akhir bulan Muharram, bukan permulaannya. Sedangkan kemenangannya adalah di bulan Shafar.

Perang Khaibar merupakan peperangan kaum muslimin dengan Yahudi di Khaibar karena bersekutu dengan Raja Hiraklius. Kaum Muslimin menaklukkan sebuag benteng yang berlapis dengan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengepung dan menembus masuk ke bentng tersebut.

Hidayah Menyapa Bani Udzrah

iwanttohappier.com

Bani Udzrah adalah salah satu bani yang mempunyai garis keturunan sampai kepada Qushai, salah satu kakek Rasulullah SAW. Pada bulan Shafar tahun 9 Hijriyah, datang kepada Rasulullah 12 utusan dari Bani Udzroh. Di antaranya Jumroh bin an-Nu’maan. Mereka menyatakan diri memeluk Islam. Rasulullah saw kemudian menceritakan kepada mereka akan datangnya kemenangan atas Syam dan diperanginya Hiraklius hingga akhir imperiumnya.

Penaklukan Kekaisaran Persia

difanskrl.wen9net

Ketika masuk awal tahun ke 14 H khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memotivasi kaum muslimin untuk berjihad di bumi Irak. Yakni ketika sampai kepadanya berita terbunuhnya Abu Ubaid pada peperangan di Jembatan sungai Eufrat, dan menguatnya kembali kekuatan Persia di bawah pimpinan Yazdigrid dari kalangan Raja Persia yang kafir kepada Allah Rabb semesta alam. Ditambah lagi dengan penghianatan Ahlu Dzimmah di Irak terhadap kesepakatan yang mereka buat dengan kaum Muslimin. Mereka telah melepaskan ketaatan mereka terhadap pemerintah Islam, dengan menyakiti kaum Muslimin dan mengusir para gubernur wilayah yang ditunjuk Khalifah Umar.

Maka Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk keluar dari wilayah Persia dan berkumpul di penghujung negeri-negeri jajahan Persia.

Pada awal bulan Muharram tahun 14 H khalifah Umar berangkat dari Madinah membawa pasukannya dan singgah di sebuah tempat yang banyak airnya disebut dengan Shirar (sebuah tempat yang terletak tiga mil dari Madinah menuju jalan ke Irak). Di tempat itu Khalifah memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Beliau sendiri telah bertekad untuk memimpin sendiri peperangan melawan Irak. Dia telah menunjuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai penggantinya di Madinah. Dalam keberangkatan ini dia membawa sahabat senior seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan sahabat lainnya.

Pada bulan berikutnya, batalion khusus yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil menaklukan seluruh wilayah kekaisaran Persia.

Wafatnya Shalahuddin Al-Ayyubi, Pembebas Palestina

kufarooq96.blog.com

Pada tanggal 27 Shafar tahun 859 Hijriyyah, bertepatan dengan 15 Februari 1455 M, Sholahuddin menghembuskan nafas terakhir di Damaskus. Para pengurus jenazah terkaget-kaget karena Sholahuddin tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki kain kafan dan uang senilai 66 dirham nasirian (mata uang suriah pada waktu itu).

Menjelang wafatnya beliau menyampaikan pesan yang luar biasa “Jangan tumpahkan darah (sesama Muslim -red), sebab darah yang terpecik tak akan pernah tidur”. Beliau meninggalkan penasihat yang merupakan ulama terkenal yakni Ibnu Qudamah, Ibnu Az-Zaki Asy-Syafi’i, dan Ibnu Naja’ al-Qadiri al Hambali.


You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>