Sejarah dan Keutamaan Memakmurkan Masjid

Setiap agama, mulai dari agama penyembah pohon sampai agama samawi, masing-masing memiliki tempat khusus yang digunakan untuk beribadah menyembah tuhannya.

Sudah barang tentu, tempat-tempat ibadah tersebut memiliki kesakralan tersendiri bagi para penganut agamanya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami akan membahas sedikit seputar masjid, sejarah serta keutamaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang memakmurkan masjid.

Mengapa ‘Bangunan Tersebut’ Bernama Masjid

alharamnews.com

Pembahasan kali ini akan kami awali dari asal penamaan bangunan yang dipakai oleh umat Islam sebagai tempat ibadah ini.

Secara bahasa, kata masjid (مَسْجِدٌ) adalah tempat yang dipakai untuk bersujud. Inilah yang dimaksud dalam hadits Nabi SAW yang menyebutkan bahwasannya seluruh bumi Allah adalah masjid.

Diriwayatkan dari Sayyidina Abu Sa’id Al-Khudry, Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali kuburan dan WC”. (HR Imam Ahmad bin Hanbal)

Yang dimaksud “masjid” di dalam hadits tersebut adalah tempat sujud untuk shalat secara umum. Kita memang diperkenankan untuk sholat di mana saja kecuali di tempat yang dilarang sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

Adapun secara istilah, maknanya meluas menjadi bangunan khusus yang dijadikan orang-orang untuk tempat berkumpul menunaikan shalat berjama’ah secara tetap dan bukan sementara.

Imam Az-Zarkasyi berkata, “Manakala sujud adalah perbuatan yang paling mulia dalam shalat, disebabkan kedekatan hamba Allah kepada-Nya di dalam sujud, maka tempat melaksanakan shalat diambil dari kata sujud (yakni masjad = tempat sujud). Mereka tidak menyebutnya مَرْكَعٌ (tempat ruku’) atau yang lainnya.

Kemudian perkembangan berikutnya lafazh masjad berubah menjadi masjid, yang secara istilah berarti bengunan khusus yang disediakan untuk shalat lima waktu.

Berbeda dengan tempat yang digunakan untuk shalat ‘Ied atau sejenisnya (seperti shalat Istisqa’) yang dinamakan اَلْمُصَلَّى (mushallaa = lapangan terbuka yang digunakan untuk shalat ‘Id atau sejenisnya).

Hukum-hukum bagi masjid tidak dapat diterapkan pada mushalla.

Kekhususan bagi Umat Nabi Muhammad SAW

Umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan keistimewaan tersendiri dibanding umat-umat sebelumnya, yaitu boleh melaksanakan sholat dimanapun kecuali yang dilarang.

Dari Sayyidina Jabir ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda.

وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًاوَطَهُوْرًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ، فَلْيُصَلِّ

“..Dan bumi ini dijadikan bagiku sebagai tempat shalat serta sarana bersuci (tayammum). Maka siapa pun dari umatku yang datang waktu shalat (di suatu tempat), maka hendaklah ia shalat (di sana).”

Ini adalah kekhususan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummatnya. Sementara para Nabi sebelum beliau hanya diperbolehkan shalat di tempat tertentu saja, seperti sinagog dan gereja.

Sejarah Pembangunan Masjid

Dalam agama Islam, ada beberapa masjid yang menjadi perhatian bagi umatnya. Hal ini tidak terlepas dari keutamaan, sejarah dan kisah-kisah menarik yang terdapat diseputar masjid-masjid tersebut.

Masjid Pertama yang Dibangun dalam Sejarah Umat Manusia

onehdwallpaper.com

Yang kita bahas di sini bukanlah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW, akan tetapi masjid yang benar-benar pertama kali dibuat dalam sejarah manusia.

Mengenai hal ini, sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang tercatat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari ra.

“Dari Abu Dzar radhiallahu anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang masjid yang pertama kali dibangun, maka Rasulullah SAW menjawab: “Masjid Al-Haram”.

Kemudian aku bertanya lagi: ‘Kemudian masjid apa lagi?’, Rasulullah SAW menjawab: “Masjid Al-Aqsha”.

Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Berapa jarak antara keduanya?’, Rasulullah SAW menjawab: “Empat puluh tahun.” (HR. Bukhori 6/290-291; Muslim No. 520)

Akan tetapi, jangan kita bayangkan kondisi bangunan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha ketika itu sudah seperti sekarang. Kondisinya jauh lebih sederhana.

Adapun yang membangun Masjidil Haram adalah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa sebelumnya sudah lebih dulu didirikan oleh Nabi Adam as. Tapi, apabila kita korelasikan dengan hadits di atas, maka nampaknya pendapat pertama lebih kuat dari pendapat kedua.

Mengapa?

Hal ini berkaitan dengan pembangunan masjid yang kedua, yaitu Masjidil Aqsha. Akan sangat janggal apabila dikatakan bahwa Nabi Adam as (juga) yang membangun masjid tersebut, lantaran populasi manusia ketika itu masih sedikit dan penyebarannya belum terlalu luas.

Adapun apabila memakai pendapat pertama, maka lebih mudah diterima oleh akal dan tidak bertentangan dengan nash-nash di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as diperintahkan untuk membina Baitullah (Ka’bah) sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 127.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) pondasi-pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah 127)

Sedangkan Masjidil Aqsha, menurut ahli sejarah didirikan oleh cucu Nabi Ibrahim as, yaitu Nabi Ya’qub as dan diperluas serta dipercantik lagi kelak oleh salah satu keturunannya yaitu Nabi Sulaiman as.

Keutamaan Masjid dan Orang-orang yang Memakmurkannya

Sangat banyak ayat-ayat di dalam Al-Quranul Karim dan Hadits yang membahas tentang masjid serta keutamaan-keutamaannya. Berikut ini diantaranya;

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, jelas yang dimaksud ‘masjid-masjidnya’ adalah masjid dalam pengertian istilah seperti yang sudah diterangkan tadi.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Diriwayatkan oleh Abu Na’im dan Sa’id al Khudri r.a dalam sebuah hadits qudsi:

“Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi ialah masjid-masjid dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya”

Di dalam hadits Qudsi di atas, Allah memberitahukan bahwa masjid adalah rumah Allah di bumi tempat orang melakukan ibadah dan mengabdi kepada-Nya, bertasbih dan mensucikan-Nya.

Karena itu, masjid merupakan tempat yang paling mulia di bumi. Sedangkan orang-orang yang mengunjunginya dan memakmurkannya dengan shalat, zikir, shalawat, mem-baca Al Qur’an, dan cara-cara lain untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah adalah tamu Allah. Dan tamu Allah adalah tamu termulia, sebab shahibul bait (pemilik rumah) penerima tamu itu adalah Allah SWT sendiri.

Dan Abi Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian melihat seseorang yang biasa mengunjungi masjid, maka yakinilah bahwa orang tersebut telah beriman. (H.R. Ahmad dan Abi Sa’id Al Khudri)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

(1) Imam yang adil,
(2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh,
(3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid,
(4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
(5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan
(6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta
(7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” 
(HR Bukhari)

Hal ini menunjukkan tentang rasa cintanya kepada masjid untuk shalat dan dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla . Hatinya bagaikan lampu pelita yang terpasang di atapnya, di mana tidaklah dia keluar darinya melainkan dia akan kembali.

Kata rajulun (seorang laki-laki) disini hanya terbatas pada laki-laki saja karena perempuan tidak diperintahkan untuk meramaikan masjid-masjid Allâh, dalam artian untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid. Namun dianjurkan bagi para wanita Muslimah untuk melaksanakan shalat di rumah mereka,

وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.

Sedangkan bagi laki-laki diwajibkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

Cara Memakmurkan Masjid Allah

 

3 pemikiran pada “Sejarah dan Keutamaan Memakmurkan Masjid

Tinggalkan komentar