Pulau penjara Nusakambangan

Menguak Sejarah Terciptanya Penjara di Nusakambangan

Sejarah Nusakambangan

Terdapat satu pulau di Jawa Tengah yang ianya juga salah satu pulau terluar di Indonesia. namun cukup terkenal. Yap, Nusakambangan.

Nusakambangan mungkin lebih kita kenal dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang terdapat di dalamnya. Padahal, nama lapas-lapas itu bukanlah Nusakambangan, karena sebetulnya Nusakambangan sendiri adalah nama pulaunya. Dan sebetulnya di Nusakambangan sendiri juga terdapat pantai-pantai yang cukup cantik sebagaimana gambar pembuka di atas.

Meskipun apabila dilihat secara geografis pulau ini dekat dengan kabupaten Cilacap, namun pulau ini tidak masuk wilayah administratif dari kabupaten Cilacap. Akan tetapi dibawah pantauan Kemenkumham secara langsung.

Asal usul nama Nusakambangan adalah karena di pulau ini konon terdapat bunga-bunga yang sangat harum baunya. Sehingga dinamakan Nusakambangan yang berarti “Pulau Bunga-bungaan”.

Lokasi Pulau Nusakambangan

akses ke penjara nusakambangan
viva.co.id

Apabila anda hendak pergi ke pulau ini, anda hanya bisa mencapainya dengan menaiki kapal feri yang berangkat dari pelabuhan ‘spesial’ yang langsung dikelola oleh Kementerian Hukum dan HAM, yakni Pelabuhan Sodong. Kapal feri ini hanya mengangkut segala yang berkaitan dengan lapas, baik itu pegawai-pegawai lapas, pemindahan narapidana dan sebagai akses untuk mengantarkan keluarga narapidana yang ingin menjenguk.

Disamping sebagai tempat dari beberapa penjara, pulau Nusakambangan sebetulnya juga berstatus sebagai cagar alam. Karena pulau ini menjadi habitat untuk pohon-pohon langka. Namun, karena hal ini diketahui oleh orang-orang anti pecinta alam, mereka pun melakukan penebangan secara liar sehingga jenis tumbuhan yang tersisa tinggal sedikit.

Contohnya, di pulau ini dahulu terdapat kayu plahlar yang hanya bisa ditemukan di Nusakambangan. Namun, sekarang sudah hampir habis karena belakangan diketahui, bahwa kualitas kayu ini apabila sudah dikeringkan menyamai kualitas kayu meranti dari Kalimantan.

Sejarah Penjara di Nusakambangan

sejarah penjara nusakambangan
dw.com

Istilah “Penjara Nusakambangan” sebetulnya adalah satu kerancuan yang dipahami oleh kebanyakan masyarakat. Dikarenakan di pulau ini sendiri tidak terdapat satupun penjara yang mempunyai nama seperti itu.

Sedangkan sejarah mengapa pulau Nusakambangan dikenal sebagai penjara sendiri mempunyai kisah yang panjang sejak zaman Belanda menjajah negeri kita.

Pemerintahan penjajah ketika itu sengaja meneliti beberapa pulau di Indonesia yang akan digunakan sebagai rumah tahanan bagi para pembangkang.

Sebelum ditentukan Nusakambangan, sebetulnya ada beberapa opsi pulau lainnya. Diantaranya pulau Nusa Barung yang ada di Jawa Timur, pulau Prinsen di Ujung Kulon, pulau Gunung Krakatau di Selat Sunda.

Pada akhirnya pada tahun 1908 M, Gubernur Belanda memutuskan untuk menjadikan Nusakambangan sebagai tempat tinggal bagi orang-orang yang dihukum. Pada saat itu, para narapidana selain menjalani hukuman juga diberi tugas kerja paksa untuk membangun benteng bagi Belanda di pulau itu.

Setelah Indonesia berhasil memerdekakan diri dari jajahan Belanda, rupanya fungsi pulau Nusakambangan sendiri tidak jauh berubah. Bahkan keamanan di pulau Nusakambangan semakin diperketat dan dijadikan sebagai Lembaga Pemasyarakatan bagi narapidana-narapidana yang dianggap telah melakukan kejahatan kelas berat.

Penjara-penjara yang ada di sini juga dijadikan sebagai ‘rumah transit’ bagi para terpidana yang mendapatkan hukuman mati sebelum di eksekusi di hutan belantara pulau Nusakambangan. Beberapa nama yang pernah dieksekusi mati seperti Amrozi, Mukhlas, Imam Samudra serta “9 dewa narkoba” pernah transit di penjara yang ada di Nusakambangan sebelum dihukum mati.

Dijadikannya pulau ini sebagai Lembaga Pemasyarakatan bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang dijadikan pegangan baik dari pemerintahan Belanda dahulu maupun Indonesia.

Yang pertama, lokasi ini terisolir dan hanya memiliki satu jalur (resmi) yang menghubungkan pulau dengan masyarakat biasa.

Kedua, posisi selatan pulau yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia menjadikan kemungkinan potensi Napi untuk kabur menjadi berkurang.

Terakhir, pulau ini meskipun cukup terpisah dari penduduk sekitar, namun masyarakat bisa membantu mengawasi para tahanan dari jauh karena pulau Nusakambangan dikelilingi oleh Kampung Nelayan.

Nama-nama Penjara di Nusakambangan

Awalnya, di pulau ini terdapat 9 penjara yang digunakan untuk rumah tahanan. Namun, seiring berjalannya waktu, untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah, disisakan 4 penjara saja. Yaitu,  Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning, dan Lapas Permisan.

Kisah Kaburnya Napi dari Nusakambangan

napi kabur dari nusakambangan
photobucket.com

Meskipun Nusakambangan dikenal sebagai pulau yang dijaga sangat ketat, rupanya masih ada celah yang masih bisa dimanfaatkan para narapidana untuk melarikan diri. Hal ini terbukti dengan adanya para penghuni lapas yang berhasil kabur dari pulau “angker” tersebut.

1. Nanggo alias Bang Timong

Nanggo merupakan preman yang biasa mangkal di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Ia tercatat pernah mampu kabur dari dinginnnya sel. Sebelumnya, ia divonis menghuni lapas di Nusakambangan lantaran kasus pembunuhan.

Baru menjalani hukuman selama delapan bulan di penjara, rupanya Bang Timong ini sudah tidak betah. Ia pun mulai membuat siasat untuk berencana kabur bersama tujuh orang kenalannya. Mereka melangsungkan komunikasi ketika para napi bekerja di ladang atau melalui kurir khusus.

Salah seorang napi yang ahli ramal ditugaskan untuk menentukan kapankah hari baik untuk kabur. Maka, ia pun memilih tanggal 20 Mei tahun 1982 sebagai tanggal untuk kabur.

Tepat di hari H, mereka semua sudah bersiap-siap untuk kabur, akan tetapi kesempatan tak kunjung tiba. Hingga ketika hari mulai gelap, mereka melihat seorang napi baru pulang dari ladang dan ingin kembali ke komplek penjara. Ketika sang penjaga penjara membukakan pintu untuknya, gerombolan ini pun tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Mereka langsung memukul kepala sipir tersebut hingga pingsan dan lari berhamburan.

Namun, pelarian mereka tidaklah lama. Tujuh hari berselang, mereka berhasil diringkus kembali ketika berusaha bersembunyi di rumah seorang warga yang berada tidak jauh dari pulau Nusakambangan.

2. Johny Indo

Di dunia rampok, nama Johny Indo tidaklah asing lagi. Ia biasanya beraksi bersama dengan 12 anak buahnya yang diberi nama pachinko alias pasukan china kota. Kelompok ini adalah kelompok yang cukup di segani di Jakarta. Biasanya, mereka hanya akan mengincar toko-toko emas dan selalu melakukan aksi pada siang hari.

Komplotan ini bisa dibilang selalu berhasil dalam aksi-aksi perampokannya, hingga suatu waktu salah seorang anggota ceroboh. Ia berhasil dijebak petugas kepolisian saat hendak menjual emas hasil rampokannya itu. Dengan ditangkapnya satu orang ini, maka anggota lainnya pun satu per satu berhasil dibekukkan oleh Polri. Johny sendiri ditangkap di Sukabumi, Jawa Barat dan diganjar dengan hukuman 14 tahun penjara.

Saat mendekam di Nusakambangan ini, Jhony Indo ikut kabur bersama puluhan narapidana lainnya di tanggal yang sama dengan Bang Timong. Akan tetapi, kelompok mereka ini lebih memilih untuk bersembunyi di hutan.

Hari kelima, kondisi makin tak menguntungkan. Banyak temannya yang ditembak mati dan 17 orang ditangkap hidup-hidup. Tetapi, Johny Indo berhasil lolos bersama dua orang temannya yang tersisa sampai sampai hari kesepuluh. Tepat hari ke-12 pelariannya, aparat polisi berhasil meringkus dan menggiringnya ke penjara lagi.

3. Sastrowiyono bin Wongso

Sastrowiyono pada awalnya bukanlah seorang penjahat, melainkan hanya seorang pedagang pakaian di Sumatra Selatan dan Lampung. Ia mulai berkecimpung dalam dunia gelap ini pada tahun 1974, yaitu saat ia ikut terlibat dalam sebuah perampokan dan pembunuhan.

Setelah melalui proses hukum, ia divonis empat tahun penjara di LP Metro Lampung. Namun, dikarenakan kelakuannya yang sulit dikendalikan, ia pun dibuang ke Nusakambangan serta ditambah masa hukumannya.

Pada bulan Juni 1979, Sastro mulai membuat rencana untuk melarikan diri seorang diri. Singkat cerita, pada suatu hari pukul 19.00 ia pun berhasil melompati pagar setinggi 4 meter dan melanjutkan pelariannya dengan berenang.

Setelah semalaman berenang, ia sampai di daratan pada waktu shubuh. Setelah bercakap-cakap dengan penduduk setempat, Sastro pun tahu bahwa ia sedang berada di Desa Kubangkangkung, Cilacap.

Proses pelariannya bisa dibilang cukup berhasil, karena berhasil kembali ke Lampung dengan selamat. Namun, karena sifat jahatnya yang sudah mulai merasuki dirinya itu, ia pun tidak tahan untuk melakukan kejahatan merampok dan membunuh seperti yang pernah ia lakukan dahulu. Sehingga, ia pun kembali ditangkap dan dijebloskan ke LP Cirebon untuk tinggal di sana selama 21 tahun, sudah termasuk hutang hukumannya saat di Nusakambangan.

Tinggalkan komentar